Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 April 2015

Akibat Perceraian bagi Anak Anak

Anak-anak bergumul dengan pelajaran matematika dan bermasalah dalam mencari teman ketika orangtua mereka bercerai, studi terbaru menemukan.
Mereka seringkali tertinggal dari teman-teman sekelasnya yang orangtuanya tetap bersama dalam ikatan pernikahan, menderita kecemasan, kesepian dan perasaan kesedihan – dan tidak pernah bisa mengejar secara akademis.
Sebuah studi di Amerika menemukan sebelum orangtua benar-benar memutuskan untuk berpisah, anak-anak tidak menunjukkan efek negatif. Namun begitu proses perceraian dimulai, anak-anak mengalami berbagai masalah yang berkelanjutan, sebagaimana dikatakan di dalam laporan American Sociological Review.
Studi selama lima tahun membandingkan perkembangan emosional dan akademis dari anak-anak yang orangtuanya bercerai dengan anak-anak yang orangtuanya tetap terikat di dalam pernikahan, dengan mengamati 3.585 anak-anak dari usia empat tahun.
“Anak-anak yang mengalami perceraian orangtua mengalami kemunduran pada nilai tes matematika dan memiliki masalah dengan ketrampilan interpersonal serta perilaku internalisasi,” ujar pemimpin riset Hyun Sik Kim, dari University of Wisconsin-Madison.
“Mereka lebih rentan terhadap perasaan gelisah, kesepian, harga diri yang rendah dan kesedihan.”
Kondisi ini menjadi stabil setelah perceraian, namun anak-anak tetap tertinggal dari rekan-rekannya yang memiliki keluarga utuh.
“Prediksi pribadi saya adalah anak-anak dari perceraian akan mengalami dampak negatif bahkan sebelum proses perceraian formal dimulai. Namun studi menemukan bahwa hal ini tidak terjadi.”
Kemungkinan penyebab kemunduran perkembangan anak-anak terjadi karena anak-anak mengalami stres akibat melihat orangtua mereka saling menyalahkan saat bercerai dan berdebat soal hak asuh.
Kondisi kehidupan yang tidak stabil dimana anak-anak harus memilih di antara orangtua juga dapat mengganggu kehidupan sosial anak-anak.
Masalah lain termasuk kesulitan ekonomi akibat penurunan tiba-tiba pada pendapatan keluarga atau orangtua yang menderita depresi sebagai akibat dari perceraian.
Studi ini menambah kekayaan data yang menunjukkan bahwa anak-anak sangat menderita akibat perceraian orangtua.

Ilmuwan Inggris menunjukkan anak-anak dari keluarga berantakan beresiko lima kali lebih besar untuk menderita masalah mental yang rusak daripada mereka yang orangtuanya tetap bersama.
Sebagai dua orang dewasa yang telah megikat diri ke dalam suatu pernikahan, sangat penting bagi kita untuk mempertanggungjawabkan keputusan yang telah kita ambil baik di hadapan Tuhan maupun terhadap anak-anak kita. Karena keputusan untuk bercerai selain menunjukkan ketidakdewasaan dan keegoisan kita sebagai manusia, dampak yang merusak akan benar-benar terjadi secara permanen terhadap anak-anak kita.

Sumber: dailymail

Share |
Anak-anak bergumul dengan pelajaran matematika dan bermasalah dalam mencari teman ketika orangtua mereka bercerai, studi terbaru menemukan.
Mereka seringkali tertinggal dari teman-teman sekelasnya yang orangtuanya tetap bersama dalam ikatan pernikahan, menderita kecemasan, kesepian dan perasaan kesedihan – dan tidak pernah bisa mengejar secara akademis.
Sebuah studi di Amerika menemukan sebelum orangtua benar-benar memutuskan untuk berpisah, anak-anak tidak menunjukkan efek negatif. Namun begitu proses perceraian dimulai, anak-anak mengalami berbagai masalah yang berkelanjutan, sebagaimana dikatakan di dalam laporan American Sociological Review.
Studi selama lima tahun membandingkan perkembangan emosional dan akademis dari anak-anak yang orangtuanya bercerai dengan anak-anak yang orangtuanya tetap terikat di dalam pernikahan, dengan mengamati 3.585 anak-anak dari usia empat tahun.
“Anak-anak yang mengalami perceraian orangtua mengalami kemunduran pada nilai tes matematika dan memiliki masalah dengan ketrampilan interpersonal serta perilaku internalisasi,” ujar pemimpin riset Hyun Sik Kim, dari University of Wisconsin-Madison.
“Mereka lebih rentan terhadap perasaan gelisah, kesepian, harga diri yang rendah dan kesedihan.”
Kondisi ini menjadi stabil setelah perceraian, namun anak-anak tetap tertinggal dari rekan-rekannya yang memiliki keluarga utuh.
“Prediksi pribadi saya adalah anak-anak dari perceraian akan mengalami dampak negatif bahkan sebelum proses perceraian formal dimulai. Namun studi menemukan bahwa hal ini tidak terjadi.”
Kemungkinan penyebab kemunduran perkembangan anak-anak terjadi karena anak-anak mengalami stres akibat melihat orangtua mereka saling menyalahkan saat bercerai dan berdebat soal hak asuh.
Kondisi kehidupan yang tidak stabil dimana anak-anak harus memilih di antara orangtua juga dapat mengganggu kehidupan sosial anak-anak.
Masalah lain termasuk kesulitan ekonomi akibat penurunan tiba-tiba pada pendapatan keluarga atau orangtua yang menderita depresi sebagai akibat dari perceraian.
Studi ini menambah kekayaan data yang menunjukkan bahwa anak-anak sangat menderita akibat perceraian orangtua.

Ilmuwan Inggris menunjukkan anak-anak dari keluarga berantakan beresiko lima kali lebih besar untuk menderita masalah mental yang rusak daripada mereka yang orangtuanya tetap bersama.
Sebagai dua orang dewasa yang telah megikat diri ke dalam suatu pernikahan, sangat penting bagi kita untuk mempertanggungjawabkan keputusan yang telah kita ambil baik di hadapan Tuhan maupun terhadap anak-anak kita. Karena keputusan untuk bercerai selain menunjukkan ketidakdewasaan dan keegoisan kita sebagai manusia, dampak yang merusak akan benar-benar terjadi secara permanen terhadap anak-anak kita.

Sumber: dailymail

Share |

Tips Mendidik Anak Tunggal

Terdapat manfaat yang unik dan beragam tantangan dalam mengasuh anak tunggal. Meskipun Anda bisa terlibat lebih dalam dengan kehidupan anak Anda, menemukan keseimbangan yang tepat dengan anak Anda bisa menjadi suatu hal yang sulit. Anak tunggal memiliki kepribadian tersendiri, dan sebagai orangtua, Anda perlu belajar menghadapi karakteristik unik anak Anda agar dapat membantunya berkembang menjadi seorang dewasa yang sukses dan bertanggungjawab. Untuk membantu Anda mengasuh anak tunggal dengan lebih baik, berikut adalah beberapa karakteristik yang seringkali ditemukan pada anak tunggal disertai dengan beberapa tips pengasuhan yang efektif untuk membantu Anda.

Karakteristik Anak Tunggal

Anak tunggal dapat memiliki beragam karakteristik yang menarik. Dalam banyak kasus, anak tunggal memiliki karakteristik gabungan dari anak sulung dan anak bungsu. Seringkali mereka perfeksionis; memiliki kemampuan organisasi yang hebat, dan tujuan mulia untuk dicapai. Di sisi lain, mereka mungkin santai, lucu, kreatif, dan sedikit egois, seperti kebanyakan anak bungsu. Gabungan karakteristik inilah yang menjadi tantangan dalam membesarkan anak tunggal.

Tips Efektif Mengasuh Anak Tunggal

Saat ini Anda tahu sedikit lebih banyak mengenai karakteristik yang dimiliki anak tunggal. Dan Anda memiliki informasi yang dapat membuat Anda mengasuh mereka dengan lebih baik. Semakin Anda memahami anak Anda, semakin baik Anda dapat mengasuh mereka untuk membantu mereka berkembang menjadi seorang dewasa yag luar biasa. Berikut ini adalah beberapa tips pengasuhan yang efektif yang dapat menolong Anda untuk menghadapi anak Anda satu-satunya.

Tips #1 – Bantu Mereka Membangun Persahabatan Dengan Orang Lain

Salah satu tips yang paling penting untuk membesarkan anak tunggal adalah membantu mereka membangun persahabatan dengan orang lain. Anak Anda tidak memiliki saudara kandung untuk saling berinteraksi, sehingga secara khusus Anda perlu menarik mereka untuk memiliki kehidupan sosial di rumah. Ada banyak cara yang baik yang dapat Anda gunakan untuk membantu anak Anda bersosialisasi. Anda bisa memanfaatkan kelompok bermain, menjadwalkan hari khusus untuk bermain, dll. Jika mereka lebih tua, dorong mereka untuk terlibat di dalam kegiatan setelah jam sekolah. Berfokuslah pada ketrampilan sosial anak Anda. Ajar mereka untuk berkompromi, memikirkan kepentingan orang lain, dan berbagi. Ini merupakan pelajaran hidup yang penting dan Anda sebagai orangtua harus berfokus pada hal itu karena anak Anda tidak memiliki saudara kandung untuk mempelajari segala hal itu.

Tips #2 – Tetapkan Batasan Untuk Anak Anda

Tips lainnya yang penting untuk diingat adalah tetapkan batasan bagi anak Anda. Anak tunggal biasanya sangat bossy dan mereka bahkan dapat mendikte tindakan Anda. Anda harus memulainya dengan batasan-batasan yang baik. Jelaskan pada mereka bagaimana mereka harus berperilaku dan biarkan mereka tahu bahwa beberapa tindakan tidak akan dapat ditoleransi. Batasan itu penting. Batasan membuat anak Anda merasa aman dan biarkan anak Anda tahu bahwa hidup pun akan memiliki batasan-batasan ketika mereka dewasa.

Tips #3 – Ajar Mereka Untuk Bertanggungjawab

Anda juga perlu mengajar anak tunggal Anda untuk bertanggungjawab. Memiliki anak tunggal terkadang menggelincirkan orangtua untuk memanjakan mereka. Seperti membiarkan mereka untuk tdak membereskan kamar dan menghindari untuk memberikan tugas kepada mereka. Berikan tugas untuk diselesaikan kepada mereka sesuai dengan usianya. Hal ini akan membantu mereka untuk bertanggungjawab, ketrampilan hidup yang sangat penting bagi mereka saat tumbuh dewasa.

Tips #4 – Hindari Menjadi Tukang Kritik

Penting bagi Anda untuk menghindari bersikap terlalu kritis terhadap anak Anda. Sangat mudah bagi Anda dan pasangan sebagai orangtua untuk mengkritik anak saat mereka membuat kesalahan. Disiplin perlu diterapkan dengan cara yang penuh kasih dan harus menjadi tugas Anda berdua sebagai orangtua. Namun, Anda juga tidak ingin membuat anak Anda merasa bahwa Anda berdua bersekongkol menentangnya dengan menjadi kritis. Kesalahan pasti akan terjadi. Meskipun Anda perlu menggunakan disiplin dari waktu ke waktu, buatlah disiplin menjadi hal yang konstruktif dan hindari terlalu banyak mengkritik, yang dapat mengecilkan hati anak Anda.

Tips #5 – Hindari Terlalu Memanjakan Anak Anda

Terlalu memanjakan adalah suatu hal yang perlu Anda hindari dengan hati-hati ketika membesarkan anak tunggal. Banyak orangtua yang melakukan kesalahan dengan membeli banyak mainan dan item lainnya untuk anak mereka. Hal ini dapat membuat anak Anda menjadi lebih penuntut. Tentu saja hal ini tidak berarti Anda tidak bisa membeli sesuatu untuk anak Anda dari waktu ke waktu. Hanya saja hindari untuk terlalu berlebihan dan memanjakan anak Anda.

Tips #6 – Dorong Anak Anda Untuk Menjadi Mandiri

Tips lainnya yang sangat penting untuk diingat saat membesarkan anak tunggal adalah dorong mereka untuk mandiri. Sepertinya mudah untuk menolong anak Anda dalam segala hal, tetapi melakukan ini hanya akan membuatnya menjadi tergantung kepada Anda. Meskipun Anda perlu memberikan bantuan ketika mereka membutuhkannya, biarkan anak Anda membuat beberapa kesalahan sehingga mereka belajar. Anda tidak akan ingin anak Anda tumbuh tanpa memiliki kemandirian yang cukup.

Beberapa anak tunggal tumbuh dengan perasaan kesepian. Hal ini tidak seharusnya terjadi. Anda dapat membawa anak Anda untuk menjadi seorang dewasa yang percaya diri dan mandiri. Dengan menghindari untuk menjadi terlalu protektif dan memastikan anak Anda memiliki banyak interaksi dengan orang lain, Anda dapat membantu mereka membangun kepercayaan diri yang mereka butuhkan saat mereka tumbuh dewasa.

Tanamkan tips ini di dalam pikiran Anda dan gunakan untuk membesarkan anak Anda satu-satunya. Anda akan memberikan masa kecil yang bahagia kepada anak Anda dan memastikan mereka memsuki dunia orang dewasa dengan kesiapan untuk menghadapi segala tuntutan dunia di sekitar mereka.

Sumber : more4kids.info

Share |
Terdapat manfaat yang unik dan beragam tantangan dalam mengasuh anak tunggal. Meskipun Anda bisa terlibat lebih dalam dengan kehidupan anak Anda, menemukan keseimbangan yang tepat dengan anak Anda bisa menjadi suatu hal yang sulit. Anak tunggal memiliki kepribadian tersendiri, dan sebagai orangtua, Anda perlu belajar menghadapi karakteristik unik anak Anda agar dapat membantunya berkembang menjadi seorang dewasa yang sukses dan bertanggungjawab. Untuk membantu Anda mengasuh anak tunggal dengan lebih baik, berikut adalah beberapa karakteristik yang seringkali ditemukan pada anak tunggal disertai dengan beberapa tips pengasuhan yang efektif untuk membantu Anda.

Karakteristik Anak Tunggal

Anak tunggal dapat memiliki beragam karakteristik yang menarik. Dalam banyak kasus, anak tunggal memiliki karakteristik gabungan dari anak sulung dan anak bungsu. Seringkali mereka perfeksionis; memiliki kemampuan organisasi yang hebat, dan tujuan mulia untuk dicapai. Di sisi lain, mereka mungkin santai, lucu, kreatif, dan sedikit egois, seperti kebanyakan anak bungsu. Gabungan karakteristik inilah yang menjadi tantangan dalam membesarkan anak tunggal.

Tips Efektif Mengasuh Anak Tunggal

Saat ini Anda tahu sedikit lebih banyak mengenai karakteristik yang dimiliki anak tunggal. Dan Anda memiliki informasi yang dapat membuat Anda mengasuh mereka dengan lebih baik. Semakin Anda memahami anak Anda, semakin baik Anda dapat mengasuh mereka untuk membantu mereka berkembang menjadi seorang dewasa yag luar biasa. Berikut ini adalah beberapa tips pengasuhan yang efektif yang dapat menolong Anda untuk menghadapi anak Anda satu-satunya.

Tips #1 – Bantu Mereka Membangun Persahabatan Dengan Orang Lain

Salah satu tips yang paling penting untuk membesarkan anak tunggal adalah membantu mereka membangun persahabatan dengan orang lain. Anak Anda tidak memiliki saudara kandung untuk saling berinteraksi, sehingga secara khusus Anda perlu menarik mereka untuk memiliki kehidupan sosial di rumah. Ada banyak cara yang baik yang dapat Anda gunakan untuk membantu anak Anda bersosialisasi. Anda bisa memanfaatkan kelompok bermain, menjadwalkan hari khusus untuk bermain, dll. Jika mereka lebih tua, dorong mereka untuk terlibat di dalam kegiatan setelah jam sekolah. Berfokuslah pada ketrampilan sosial anak Anda. Ajar mereka untuk berkompromi, memikirkan kepentingan orang lain, dan berbagi. Ini merupakan pelajaran hidup yang penting dan Anda sebagai orangtua harus berfokus pada hal itu karena anak Anda tidak memiliki saudara kandung untuk mempelajari segala hal itu.

Tips #2 – Tetapkan Batasan Untuk Anak Anda

Tips lainnya yang penting untuk diingat adalah tetapkan batasan bagi anak Anda. Anak tunggal biasanya sangat bossy dan mereka bahkan dapat mendikte tindakan Anda. Anda harus memulainya dengan batasan-batasan yang baik. Jelaskan pada mereka bagaimana mereka harus berperilaku dan biarkan mereka tahu bahwa beberapa tindakan tidak akan dapat ditoleransi. Batasan itu penting. Batasan membuat anak Anda merasa aman dan biarkan anak Anda tahu bahwa hidup pun akan memiliki batasan-batasan ketika mereka dewasa.

Tips #3 – Ajar Mereka Untuk Bertanggungjawab

Anda juga perlu mengajar anak tunggal Anda untuk bertanggungjawab. Memiliki anak tunggal terkadang menggelincirkan orangtua untuk memanjakan mereka. Seperti membiarkan mereka untuk tdak membereskan kamar dan menghindari untuk memberikan tugas kepada mereka. Berikan tugas untuk diselesaikan kepada mereka sesuai dengan usianya. Hal ini akan membantu mereka untuk bertanggungjawab, ketrampilan hidup yang sangat penting bagi mereka saat tumbuh dewasa.

Tips #4 – Hindari Menjadi Tukang Kritik

Penting bagi Anda untuk menghindari bersikap terlalu kritis terhadap anak Anda. Sangat mudah bagi Anda dan pasangan sebagai orangtua untuk mengkritik anak saat mereka membuat kesalahan. Disiplin perlu diterapkan dengan cara yang penuh kasih dan harus menjadi tugas Anda berdua sebagai orangtua. Namun, Anda juga tidak ingin membuat anak Anda merasa bahwa Anda berdua bersekongkol menentangnya dengan menjadi kritis. Kesalahan pasti akan terjadi. Meskipun Anda perlu menggunakan disiplin dari waktu ke waktu, buatlah disiplin menjadi hal yang konstruktif dan hindari terlalu banyak mengkritik, yang dapat mengecilkan hati anak Anda.

Tips #5 – Hindari Terlalu Memanjakan Anak Anda

Terlalu memanjakan adalah suatu hal yang perlu Anda hindari dengan hati-hati ketika membesarkan anak tunggal. Banyak orangtua yang melakukan kesalahan dengan membeli banyak mainan dan item lainnya untuk anak mereka. Hal ini dapat membuat anak Anda menjadi lebih penuntut. Tentu saja hal ini tidak berarti Anda tidak bisa membeli sesuatu untuk anak Anda dari waktu ke waktu. Hanya saja hindari untuk terlalu berlebihan dan memanjakan anak Anda.

Tips #6 – Dorong Anak Anda Untuk Menjadi Mandiri

Tips lainnya yang sangat penting untuk diingat saat membesarkan anak tunggal adalah dorong mereka untuk mandiri. Sepertinya mudah untuk menolong anak Anda dalam segala hal, tetapi melakukan ini hanya akan membuatnya menjadi tergantung kepada Anda. Meskipun Anda perlu memberikan bantuan ketika mereka membutuhkannya, biarkan anak Anda membuat beberapa kesalahan sehingga mereka belajar. Anda tidak akan ingin anak Anda tumbuh tanpa memiliki kemandirian yang cukup.

Beberapa anak tunggal tumbuh dengan perasaan kesepian. Hal ini tidak seharusnya terjadi. Anda dapat membawa anak Anda untuk menjadi seorang dewasa yang percaya diri dan mandiri. Dengan menghindari untuk menjadi terlalu protektif dan memastikan anak Anda memiliki banyak interaksi dengan orang lain, Anda dapat membantu mereka membangun kepercayaan diri yang mereka butuhkan saat mereka tumbuh dewasa.

Tanamkan tips ini di dalam pikiran Anda dan gunakan untuk membesarkan anak Anda satu-satunya. Anda akan memberikan masa kecil yang bahagia kepada anak Anda dan memastikan mereka memsuki dunia orang dewasa dengan kesiapan untuk menghadapi segala tuntutan dunia di sekitar mereka.

Sumber : more4kids.info

Share |

Jumat, 21 Oktober 2011

Ide Liburan Romatis Penghilang Kejenuhan

Liburan bareng pasangan tak harus memakan waktu lama. Meski sibuk mengurus anak dan keluarga, di tambah lagi pekerjaan yang selalu menuntut waktu dan perhatian, Anda dan pasangan perlu meluangkan waktu bersama, berduaan saja, di mana saja.

Melalui situs Lifetime Moms, penulis dan ibu dua anak Beth Fieldman berbagi ide liburan romantisnya untuk Anda.

1. Perjalanan singkat satu malam.
Cari satu tempat yang Anda dan pasangan sukai, dan menginap semalam saja berduaan. Anda bisa menitipkan anak-anak ke orangtua sementara waktu saja.

Beth dan suaminya kerap melakukan perjalanan singkat semalam ke tempat penginapan favorit tak jauh dari tempat tinggalnya. Mereka memilih penginapan dengan nuansa abad 19, lengkap dengan tempat tidur berukuran besar juga jacuzzi. Meski terkesan kuno, begitu keluar hotel, mereka bisa menikmati aneka pilihan makanan di berbagai restoran, juga destinasi belanja.

Jadi, mulailah mencari informasi tempat penginapan dekat tempat tinggal Anda saat ini, yang bisa ditempuh hanya dalam beberapa jam berkendara. Nikmati waktu berduaan. Singkat tapi berkesan.

2. Makan malam romantis berduaan.

Jika Anda dan pasangan tak nyaman pergi berduaan semalaman meninggalkan anak-anak, ciptakan liburan  hanya beberapa jam, di luar rumah.

Pilih restoran favorit, yang nyaman dan romantis. Nikmati waktu makan malam bersama, berduaan. Sementara waktu, titipkan anak-anak dengan pengasuh di rumah.

3. Menyepi.
Kesulitan pasangan menikah dengan anak, di antaranya tak mampu memecah perhatian, antara anak dan kebersamaan dengan pasangan. Rasanya sulit sekali meninggalkan anak-anak untuk pergi liburan berduaan bareng pasangan.

Namun sesekali waktu, tak ada salahnya melawan rasa cemas tadi. Pergilah berdua dengan pasangan ke tempat yang benar-benar tenang. Bantu diri Anda menenangkan pikiran, dan menikmatinya bersama pasangan.

Cari destinasi wisata yang jauh dari keramaian, tenang, dan membantu Anda dan dia untuk refreshing.

4. Ke luar negeri bareng keluarga.
Memupuk kebersamaan bareng pasangan, bisa juga dilakukan dengan melakukan perjalanan ke luar negeri. Kali ini bawa serta anak-anak dan orangtua Anda atau mertua. Jadikan perjalanan ini sebagai hadiah ulang tahun untuk ibu atau bapak Anda ataupun ibu atau bapak mertua.

Rencanakan perjalanan ini sebagai liburan tahunan. Jadi Anda bisa mengundang orangtua secara bergiliran untuk mendampingi Anda dan keluarga.

Paris dan London menjadi rekomendasi Beth untuk melakukan perjalanan penuh kehangatan bareng keluarga.

5. Bersantai di halaman belakang rumah.

Suasana romantis dan hangat juga bisa Anda ciptakan sendiri di rumah. Ciptakan suasana santai bersama seluruh anggota keluarga. Anda dan pasangan duduk santai menikmati kebersamaan, sambil menyaksikan anak-anak bermain bola di halaman belakang rumah. Atau ikut serta bersama anak-anak, dalam permainan yang mengandalkan aktivitas fisik.

Alternatifnya, ajak keluarga Anda ke taman yang sejuk di kota Anda. Pilih permainan yang aman dilakukan di area publik, dan terlibatlah aktif bersama anak-anak, jangan hanya duduk diam menyaksikan gerakan gesit si kecil.

Sumber: Lifetime MomsShare |
Liburan bareng pasangan tak harus memakan waktu lama. Meski sibuk mengurus anak dan keluarga, di tambah lagi pekerjaan yang selalu menuntut waktu dan perhatian, Anda dan pasangan perlu meluangkan waktu bersama, berduaan saja, di mana saja.

Melalui situs Lifetime Moms, penulis dan ibu dua anak Beth Fieldman berbagi ide liburan romantisnya untuk Anda.

1. Perjalanan singkat satu malam.
Cari satu tempat yang Anda dan pasangan sukai, dan menginap semalam saja berduaan. Anda bisa menitipkan anak-anak ke orangtua sementara waktu saja.

Beth dan suaminya kerap melakukan perjalanan singkat semalam ke tempat penginapan favorit tak jauh dari tempat tinggalnya. Mereka memilih penginapan dengan nuansa abad 19, lengkap dengan tempat tidur berukuran besar juga jacuzzi. Meski terkesan kuno, begitu keluar hotel, mereka bisa menikmati aneka pilihan makanan di berbagai restoran, juga destinasi belanja.

Jadi, mulailah mencari informasi tempat penginapan dekat tempat tinggal Anda saat ini, yang bisa ditempuh hanya dalam beberapa jam berkendara. Nikmati waktu berduaan. Singkat tapi berkesan.

2. Makan malam romantis berduaan.

Jika Anda dan pasangan tak nyaman pergi berduaan semalaman meninggalkan anak-anak, ciptakan liburan  hanya beberapa jam, di luar rumah.

Pilih restoran favorit, yang nyaman dan romantis. Nikmati waktu makan malam bersama, berduaan. Sementara waktu, titipkan anak-anak dengan pengasuh di rumah.

3. Menyepi.
Kesulitan pasangan menikah dengan anak, di antaranya tak mampu memecah perhatian, antara anak dan kebersamaan dengan pasangan. Rasanya sulit sekali meninggalkan anak-anak untuk pergi liburan berduaan bareng pasangan.

Namun sesekali waktu, tak ada salahnya melawan rasa cemas tadi. Pergilah berdua dengan pasangan ke tempat yang benar-benar tenang. Bantu diri Anda menenangkan pikiran, dan menikmatinya bersama pasangan.

Cari destinasi wisata yang jauh dari keramaian, tenang, dan membantu Anda dan dia untuk refreshing.

4. Ke luar negeri bareng keluarga.
Memupuk kebersamaan bareng pasangan, bisa juga dilakukan dengan melakukan perjalanan ke luar negeri. Kali ini bawa serta anak-anak dan orangtua Anda atau mertua. Jadikan perjalanan ini sebagai hadiah ulang tahun untuk ibu atau bapak Anda ataupun ibu atau bapak mertua.

Rencanakan perjalanan ini sebagai liburan tahunan. Jadi Anda bisa mengundang orangtua secara bergiliran untuk mendampingi Anda dan keluarga.

Paris dan London menjadi rekomendasi Beth untuk melakukan perjalanan penuh kehangatan bareng keluarga.

5. Bersantai di halaman belakang rumah.

Suasana romantis dan hangat juga bisa Anda ciptakan sendiri di rumah. Ciptakan suasana santai bersama seluruh anggota keluarga. Anda dan pasangan duduk santai menikmati kebersamaan, sambil menyaksikan anak-anak bermain bola di halaman belakang rumah. Atau ikut serta bersama anak-anak, dalam permainan yang mengandalkan aktivitas fisik.

Alternatifnya, ajak keluarga Anda ke taman yang sejuk di kota Anda. Pilih permainan yang aman dilakukan di area publik, dan terlibatlah aktif bersama anak-anak, jangan hanya duduk diam menyaksikan gerakan gesit si kecil.

Sumber: Lifetime MomsShare |

Senin, 10 Oktober 2011

Berbicara Pendidikan Seks pada Anak Remaja

Sebagai orangtua, pembicaraan yang paling kita takuti adalah mengenai seks. Dari mana memulainya? Beberapa orangtua tidak memiliki masalah apapun saat berbicara mengenai seks kepada anak remaja mereka, yang membuat tugas ini menjadi lebih mudah. Bisa menjadi hal yang sulit untuk mengetahui pada umur berapa sebaiknya anak Anda ketika kita sudah dapat mulai membicarakan dasar-dasar seks. Beberapa orangtua menganggapnya anaknya masih terlalu muda untuk mengetahui hal itu, sementara orangtua lainnya menganggap anaknya sudah terlalu tua dan mereka terlambat memulainya. Anda tidak ingin menunggu sampai anak Anda telah mendapatklan informasi dari orang lain mengenai seks. Jika Anda masih bertanya-tanya bagaimana memulai percakapan ini, maka Anda mungkin dapat menggunakan 7 tips berikut ini untuk mulai membicarakan seks kepada anak remaja Anda.
1. Menjaga Agar Jalur Komunikasi Tetap Terbuka
Biarkan anak remaja Anda tahu bahwa Anda selalu siap untuk menjawab pertanyaan dan selalu terbuka untuk membicarakan apapun yang ingin didiskusikannya mengenai seks. Membicarakan hal ini secara terang-terangan akan mengurangi tekanan bagi Anda berdua. Terkadang remaja Anda hanya perlu menyuarakan pendapatnya, namun tidak memerlukan umpan balik. Izinkan remaja Anda membicarakan apapun yang dibutuhkannya untuk menjaga agar pertanyaan tentang seks dapat tetap terbuka. Hal ini jauh lebih baik daripada membiarkan remaja Anda lari ke sumber lain yang tidak dapat dipercaya untuk mendapatkan informasi ini.
2. Diskusikan Secara Normal Dengan Anak Remaja Anda
Sangat penting bagi remaja Anda untuk mengetahui jenis perasaan seksual seperti apa yang diharapkan dari dirinya jika ia berada pada usia pra remaja. Pengenalan ini juga baik bagi remaja Anda untuk menyadari bahwa apa yang dirasakannya adalah normal dan tidak ada yang memalukan. Jika remaja Anda dapat menghadapi perasaan seksual secara dewasa, maka kepercayaan dirinya pun akan mengikuti. Tidak yakin dengan apakah perasaan yang mereka rasakan sebenarnya merupakan hal yang normal justru menjadi sedikit menakutkan. Kepastian adalah hal terbaik yang dapat Anda berikan.
3. Jelaskan Bagaimana Kencan Seringkali Mengarah Pada Seks
Bicarakan dengan anak remaja Anda mengenai tekanan lingkungan teman-temannya dan bagaimana seharusnya ketika ia pergi berkencan dengan seseorang tidak identik dengan seks. Terlalu banyak remaja yang baru memulai kencan memiliki asumsi bahwa seks merupakan keharusan ketika mereka pergi berkencan. Hal ini dapat menakutkan bagi sebagian orang dan menyebabkan kecemasan yang ekstrim. Diskusikan bagaimana cara agar dapat tetap berkencan dengan aman.
4. Biarkan Remaja Anda Tahu Bahwa Ada Konsekuensi Yang Mengikuti Jika Mereka Melakukan Seks
PMS, kehamilan, gejolak emosi, dan stres fisik hanya beberapa konsekuensi yang dapat timbul akibat seks. Tentu saja ada konsekuensi yang tidak terlihat sebagai suatu hal yang buruk, saat anak Anda telah mencapai usia yang tepat. Jika remaja Anda tahu mengenai fakta kehidupan sejak dini dan bagaimana menghindari konsekuensi negatif ini selama mereka di sekolah, maka mereka akan memiliki seks yang jauh lebih memuaskan setelah mereka mencapai usia yang lebih dewasa. Biarkan remaja Anda tahu ada banyak waktu untuk seks nanti setelah mereka menikah dan bahwa dia harus fokus untuk menikmati kehidupan remajanya saat ini.
5. Bicarakan Mengenai Gambar Diri Yang Baik
Terlalu banyak remaja yang menutup diri akibat penampilan mereka dan mereka merasa perlu untuk terlihat seperti remaja yang ada di majalah mode. Jika remaja putri tidak mengenakan rok pendek dan baju berleher rendah, mereka pikir remaja pria tidak akan terlalu menyukai mereka. Pastikan agar anak remaja Anda memahami perbedaan antara menyukai seseorang karena penampilan dan menyukai seseorang karena siapa dirinya sebenarnya dan betapa besarnya perbedaan yang ada di antara kedua hal ini. Remaja pria dan wanita perlu mengetahui bagaimana gambar diri mereka memiliki daya tarik seks dan pengaruh yang dimilikinya terhadap lawan jenis pada satu waktu.
6. Tetap Berpedoman Pada Dasar
Ada cukup banyak topik yang melibatkan seks secara keseluruhan, sehingga Anda perlu untuk tetap berpedoman pada dasar-dasarnya saja. Tidak ada gunanya membuat mereka bingung.
7. Jadikan Pertanyaan Terbuka
Anak-anak terikat untuk memiliki pertanyaan mengenai seks, tidak peduli berapa umur mereka. Anda dapat mencoba mempersiapkan diri dengan berpikir terlebih dahulu bagaimana Anda akan menghadapi pertanyaan-pertanyaan tertentu. Jika Anda memiliki orang dewasa lain untuk membantu membicarakan diskusi mengenai seks ini, mungkin Anda berdua bisa tek-tok pada beberapa pertanyaan. Pasangan Anda tersebut mungkin dapat menjawab pertanyaan tertentu dengan lebih baik dan lebih mudah dibandingkan Anda. Akan sangat membantu jika rekanan ini memiliki gender yang berbeda saat sedang mendiskusikan masalah seks, dalam rangka mendapatkan masukan dari kedua belah gender.
7 tips ini masih berbicara secara umum. Anda harus cukup mengenal anak Anda sendiri sehingga tahu seberapa dalam diskusi mengenai seks ini harus dibawa. Anak Anda mungkin masih berada pada usia dimana ia hanya membutuhkan sedikit informasi mengenai seks, sehingga tidak perlu mengungkapkan semua detail kepadanya.

Sumber : allwomenstalk

Share |
Sebagai orangtua, pembicaraan yang paling kita takuti adalah mengenai seks. Dari mana memulainya? Beberapa orangtua tidak memiliki masalah apapun saat berbicara mengenai seks kepada anak remaja mereka, yang membuat tugas ini menjadi lebih mudah. Bisa menjadi hal yang sulit untuk mengetahui pada umur berapa sebaiknya anak Anda ketika kita sudah dapat mulai membicarakan dasar-dasar seks. Beberapa orangtua menganggapnya anaknya masih terlalu muda untuk mengetahui hal itu, sementara orangtua lainnya menganggap anaknya sudah terlalu tua dan mereka terlambat memulainya. Anda tidak ingin menunggu sampai anak Anda telah mendapatklan informasi dari orang lain mengenai seks. Jika Anda masih bertanya-tanya bagaimana memulai percakapan ini, maka Anda mungkin dapat menggunakan 7 tips berikut ini untuk mulai membicarakan seks kepada anak remaja Anda.
1. Menjaga Agar Jalur Komunikasi Tetap Terbuka
Biarkan anak remaja Anda tahu bahwa Anda selalu siap untuk menjawab pertanyaan dan selalu terbuka untuk membicarakan apapun yang ingin didiskusikannya mengenai seks. Membicarakan hal ini secara terang-terangan akan mengurangi tekanan bagi Anda berdua. Terkadang remaja Anda hanya perlu menyuarakan pendapatnya, namun tidak memerlukan umpan balik. Izinkan remaja Anda membicarakan apapun yang dibutuhkannya untuk menjaga agar pertanyaan tentang seks dapat tetap terbuka. Hal ini jauh lebih baik daripada membiarkan remaja Anda lari ke sumber lain yang tidak dapat dipercaya untuk mendapatkan informasi ini.
2. Diskusikan Secara Normal Dengan Anak Remaja Anda
Sangat penting bagi remaja Anda untuk mengetahui jenis perasaan seksual seperti apa yang diharapkan dari dirinya jika ia berada pada usia pra remaja. Pengenalan ini juga baik bagi remaja Anda untuk menyadari bahwa apa yang dirasakannya adalah normal dan tidak ada yang memalukan. Jika remaja Anda dapat menghadapi perasaan seksual secara dewasa, maka kepercayaan dirinya pun akan mengikuti. Tidak yakin dengan apakah perasaan yang mereka rasakan sebenarnya merupakan hal yang normal justru menjadi sedikit menakutkan. Kepastian adalah hal terbaik yang dapat Anda berikan.
3. Jelaskan Bagaimana Kencan Seringkali Mengarah Pada Seks
Bicarakan dengan anak remaja Anda mengenai tekanan lingkungan teman-temannya dan bagaimana seharusnya ketika ia pergi berkencan dengan seseorang tidak identik dengan seks. Terlalu banyak remaja yang baru memulai kencan memiliki asumsi bahwa seks merupakan keharusan ketika mereka pergi berkencan. Hal ini dapat menakutkan bagi sebagian orang dan menyebabkan kecemasan yang ekstrim. Diskusikan bagaimana cara agar dapat tetap berkencan dengan aman.
4. Biarkan Remaja Anda Tahu Bahwa Ada Konsekuensi Yang Mengikuti Jika Mereka Melakukan Seks
PMS, kehamilan, gejolak emosi, dan stres fisik hanya beberapa konsekuensi yang dapat timbul akibat seks. Tentu saja ada konsekuensi yang tidak terlihat sebagai suatu hal yang buruk, saat anak Anda telah mencapai usia yang tepat. Jika remaja Anda tahu mengenai fakta kehidupan sejak dini dan bagaimana menghindari konsekuensi negatif ini selama mereka di sekolah, maka mereka akan memiliki seks yang jauh lebih memuaskan setelah mereka mencapai usia yang lebih dewasa. Biarkan remaja Anda tahu ada banyak waktu untuk seks nanti setelah mereka menikah dan bahwa dia harus fokus untuk menikmati kehidupan remajanya saat ini.
5. Bicarakan Mengenai Gambar Diri Yang Baik
Terlalu banyak remaja yang menutup diri akibat penampilan mereka dan mereka merasa perlu untuk terlihat seperti remaja yang ada di majalah mode. Jika remaja putri tidak mengenakan rok pendek dan baju berleher rendah, mereka pikir remaja pria tidak akan terlalu menyukai mereka. Pastikan agar anak remaja Anda memahami perbedaan antara menyukai seseorang karena penampilan dan menyukai seseorang karena siapa dirinya sebenarnya dan betapa besarnya perbedaan yang ada di antara kedua hal ini. Remaja pria dan wanita perlu mengetahui bagaimana gambar diri mereka memiliki daya tarik seks dan pengaruh yang dimilikinya terhadap lawan jenis pada satu waktu.
6. Tetap Berpedoman Pada Dasar
Ada cukup banyak topik yang melibatkan seks secara keseluruhan, sehingga Anda perlu untuk tetap berpedoman pada dasar-dasarnya saja. Tidak ada gunanya membuat mereka bingung.
7. Jadikan Pertanyaan Terbuka
Anak-anak terikat untuk memiliki pertanyaan mengenai seks, tidak peduli berapa umur mereka. Anda dapat mencoba mempersiapkan diri dengan berpikir terlebih dahulu bagaimana Anda akan menghadapi pertanyaan-pertanyaan tertentu. Jika Anda memiliki orang dewasa lain untuk membantu membicarakan diskusi mengenai seks ini, mungkin Anda berdua bisa tek-tok pada beberapa pertanyaan. Pasangan Anda tersebut mungkin dapat menjawab pertanyaan tertentu dengan lebih baik dan lebih mudah dibandingkan Anda. Akan sangat membantu jika rekanan ini memiliki gender yang berbeda saat sedang mendiskusikan masalah seks, dalam rangka mendapatkan masukan dari kedua belah gender.
7 tips ini masih berbicara secara umum. Anda harus cukup mengenal anak Anda sendiri sehingga tahu seberapa dalam diskusi mengenai seks ini harus dibawa. Anak Anda mungkin masih berada pada usia dimana ia hanya membutuhkan sedikit informasi mengenai seks, sehingga tidak perlu mengungkapkan semua detail kepadanya.

Sumber : allwomenstalk

Share |

Selasa, 13 September 2011

Tips Menghadapi Anak Pemalu



Banyak anak-anak memiliki pembawaan pemalu. Namun, sebagai orangtua menghadapi anak yang pemalu dapat menjadi hal yang sulit. Meskipun tidak ada tekanan untuk menjadi seorang anak yang pemalu, jika Anda membiarkan anak Anda tetap menjadi seorang anak yang pemalu, di masa yang akan datang mereka dapat kehilangan kesempatan emas dalam kehidupan mereka. Untuk alasan inilah sebagai orangtua sangat penting bagi Anda menemukan cara menolong anak Anda mengatasi rasa malu mereka dan dapat menghadapi segala situasi dengan nyaman. Tentu saja, hal ini lebih mudah untuk dikatakan daripada dilakukan. Berikut adalah beberapa tips yang dapat membantu orangtua dalam mengasuh anak yang pemalu.

Mengapa Anak Anda Menjadi Seorang Anak Yang Pemalu?

Hal pertama yang perlu Anda lakukan jika memiliki anak pemalu adalah pertama-tama dengan bertanya pada diri sendiri mengapa anak Anda menjadi seorang anak yang pemalu. Ada berbagai alasan yang menyebabkan anak Anda merasa malu. Perhatikan kapan anak Anda menunjukkan rasa malunya. Apakah mereka selalu menunjukkan rasa malu, hanya malu saat bertemu orang baru, malu di dalam kelompok besar, atau malu saat harus melakukan presentasi di depan kelas? Jika Anda dapat mengenali situasi yang membuat anak malu, Anda akan lebih mampu membantu anak Anda untuk mengatasi rasa malunya.

Anda juga perlu mempertimbangkan fakta bahwa anak Anda mungkin menghadapi hal yang lebih besar dari hanya sekedar rasa malu. Berbagai kondisi medis dan kondisi lainnya mungkin dapat menimbulkan kebingungan dan rasa malu pada seorang anak. Anak Anda mungkin bermasalah dengan sindrom Asperger, autisme, kecemasan atau ketidakmampuan belajar. Perhatikan anak Anda dan perilaku mereka dengan seksama. Jika Anda pikir mungkin ada masalah mendasar selain rasa malu, pastikan mereka mendapatkan bantuan profesional yang dibutuhkan.

Menjadi Teladan

Tips penting lainnya untuk mengasuh anak pemalu adalah dengan menjadikan diri Anda sendiri sebagai teladan. Anda mungkin akan terkejut betapa banyaknya yang anak Anda pelajari dari diri Anda. Mereka belajar dengan melihat apa yang Anda lakukan, jadi sangatlah penting untuk Anda menjadi teladan bagi mereka. Jika Anda berada di lingkungan sosial, bersikap ramahlah terhadap orang lain, perkenalkan diri Anda kepada orang lain, dan berikan pujian kepada orang asing, teman serta anggota keluarga. Ada beberapa hal yang perlu Anda hindari juga. Jangan mengkritik orang lain di depan umum, jangan mencaci-maki anak Anda karena menunjukkan sifat pemalu, dan jangan menghindari orang saat Anda gugup. Hal-hal seperti ini hanya akan mengirimkan pesan yang salah kepada anak Anda. Bahkan jika Anda sendiri adalah seorang yang pemalu, untuk menolong anak Anda, Anda perlu mengatasi rasa malu Anda dan menjadi teladan bagi anak Anda. Hal ini tidak hanya dapat membantu anak Anda belajar akan pentingnya kemampuan bersosialisasi, tapi juga dapat membantu Anda mengatassi rasa malu Anda sendiri sebagai orangtua.

Melatih Ketrampilan Sosial Sejak Dini

Ketrampilan sosial yang baik tidak muncul begitu saja pada anak-anak – ketrampilan itu perlu diajarkan. Ini artinya Anda perlu mengupayakan hal itu atas diri anak Anda, dan semakin dini Anda memulainya, semakin baik hasilnya. Rasa malu meningkat pada usia anak-anak, sehingga Anda perlu memulainya sejak dini kepada anak Anda. Jika Anda tidak tahu bagaimana mengembangkan ketrampilan sosial pada anak Anda, mulailah dengan menetapkan hari untuk bermain bersama sehingga anak Anda memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan anak lain sejak usia dini. Luangkan waktu di rumah untuk melatih ketrampilan sosial, seperti memberikan pujian, memperkenalkan orang, atau bahkan berjabat tangan dengan orang lain. Ajarkan anak tentang pertemanan dan bagaimana menjadi teman yang baik. Semua ini merupakan cara mudah mengajarkan pentingnya ketrampilan sosial yang dapat membantu mereka mengatasi rasa malu dalam hidupnya kelak.

Bantu Anak Anda Mempelajari Rasa Hormat Dan Toleransi

Mereka yang pemalu seringkali lebih gampamg menghakimi – baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Jika Anda mudah menghakimi diri sendiri, anak Anda akan belajar seperti itu juga. Ketika Anda mengkritik orang lain, Anda sedang mengajarkan kepada anak-anak Anda bahwa ketika mereka keluar rumah, orang-orang akan menghakimi mereka juga, yang justru dapat membuat mereka semakin menjadi pemalu. Hal ini dapat menyebabkan mereka menarik diri ke dalam dunia mereka sendiri yang penuh dengan rasa malu. Sangatlah penting bagi Anda untuk mengajari anak Anda mengenai rasa hormat dan bertoleransi terhadap orang lain. Ajar mereka untuk menghormati orang lain bahkan jika mereka memiliki kekurangan. Biarkan mereka tahu bahwa tidak ada orang yang sempurna, tetapi setiap orang berharga dan harus ditoleransi meskipun berada dalam ketidaksempurnaan. Berikan pujian kepada orang lain dan bukan mencelanya.

Anda juga perlu menghindar untuk memicu rasa malu anak Anda dengan cara yang negatif, yang juga merupakan cara untuk menilai anak Anda. Rasa malu memang tidak dapat dijadikan alasan dalam berperilaku, namun jangan memberikan label kepada anak Anda sebagai seorang anak yang pemalu dengan cara yang negatif. Sebaliknya, temukan cara agar Anda dapat memberikan pujian sambil membantu anak Anda untuk mengatasi rasa malu yang mereka hadapi.

Bila Anda Membutuhkan Bantuan

Ada beberapa kasus dimana anak Anda mungkin hanya berurusan dengan rasa malu. Namun, ada saat dimana hal ini bisa menjadi hal yang lebih serius, seperti gangguan kecemasan sosial yang parah. Terkadang anak-anak dapat mengalami lebih dari sekedar malu dan mereka mungkin menjadi depresi, kesepian, terisolasi, bahkan merasa putus asa. Dalam beberapa kasus, hal ini dapat mengakibatkan serangan kepanikan ketika mereka dimasukkan ke dalam situasi sosial. Hal ini bukanlah masalah sederhana yang perlu diabaikan. Jika Anda merasa anak Anda berurusan demgan lebih dari sekedar rasa malu, jangan tunggu untuk mencari bantuan. Merupakan sebuah ide yang baik untuk menemukan seorang psikolog yang baik dan terlatih dalam menangani masalah pada anak-anak.

Mengasuh anak pemalu bisa menjadi hal yang sulit, namun jika Anda melakukannya sebagai tim dengan anak Anda, mereka dapat mengatasi rasa malu mereka, yang dapat membantu mereka di masa yang akan datang. Gunakan tips dan ide ini kepada anak Anda dan ingatlah, jika sepertinya masalah anak Anda lebih dari sekedar rasa malu, segera cari bantuan yang diperlukan anak Anda.

Sumber : more4kids.info

Share |


Banyak anak-anak memiliki pembawaan pemalu. Namun, sebagai orangtua menghadapi anak yang pemalu dapat menjadi hal yang sulit. Meskipun tidak ada tekanan untuk menjadi seorang anak yang pemalu, jika Anda membiarkan anak Anda tetap menjadi seorang anak yang pemalu, di masa yang akan datang mereka dapat kehilangan kesempatan emas dalam kehidupan mereka. Untuk alasan inilah sebagai orangtua sangat penting bagi Anda menemukan cara menolong anak Anda mengatasi rasa malu mereka dan dapat menghadapi segala situasi dengan nyaman. Tentu saja, hal ini lebih mudah untuk dikatakan daripada dilakukan. Berikut adalah beberapa tips yang dapat membantu orangtua dalam mengasuh anak yang pemalu.

Mengapa Anak Anda Menjadi Seorang Anak Yang Pemalu?

Hal pertama yang perlu Anda lakukan jika memiliki anak pemalu adalah pertama-tama dengan bertanya pada diri sendiri mengapa anak Anda menjadi seorang anak yang pemalu. Ada berbagai alasan yang menyebabkan anak Anda merasa malu. Perhatikan kapan anak Anda menunjukkan rasa malunya. Apakah mereka selalu menunjukkan rasa malu, hanya malu saat bertemu orang baru, malu di dalam kelompok besar, atau malu saat harus melakukan presentasi di depan kelas? Jika Anda dapat mengenali situasi yang membuat anak malu, Anda akan lebih mampu membantu anak Anda untuk mengatasi rasa malunya.

Anda juga perlu mempertimbangkan fakta bahwa anak Anda mungkin menghadapi hal yang lebih besar dari hanya sekedar rasa malu. Berbagai kondisi medis dan kondisi lainnya mungkin dapat menimbulkan kebingungan dan rasa malu pada seorang anak. Anak Anda mungkin bermasalah dengan sindrom Asperger, autisme, kecemasan atau ketidakmampuan belajar. Perhatikan anak Anda dan perilaku mereka dengan seksama. Jika Anda pikir mungkin ada masalah mendasar selain rasa malu, pastikan mereka mendapatkan bantuan profesional yang dibutuhkan.

Menjadi Teladan

Tips penting lainnya untuk mengasuh anak pemalu adalah dengan menjadikan diri Anda sendiri sebagai teladan. Anda mungkin akan terkejut betapa banyaknya yang anak Anda pelajari dari diri Anda. Mereka belajar dengan melihat apa yang Anda lakukan, jadi sangatlah penting untuk Anda menjadi teladan bagi mereka. Jika Anda berada di lingkungan sosial, bersikap ramahlah terhadap orang lain, perkenalkan diri Anda kepada orang lain, dan berikan pujian kepada orang asing, teman serta anggota keluarga. Ada beberapa hal yang perlu Anda hindari juga. Jangan mengkritik orang lain di depan umum, jangan mencaci-maki anak Anda karena menunjukkan sifat pemalu, dan jangan menghindari orang saat Anda gugup. Hal-hal seperti ini hanya akan mengirimkan pesan yang salah kepada anak Anda. Bahkan jika Anda sendiri adalah seorang yang pemalu, untuk menolong anak Anda, Anda perlu mengatasi rasa malu Anda dan menjadi teladan bagi anak Anda. Hal ini tidak hanya dapat membantu anak Anda belajar akan pentingnya kemampuan bersosialisasi, tapi juga dapat membantu Anda mengatassi rasa malu Anda sendiri sebagai orangtua.

Melatih Ketrampilan Sosial Sejak Dini

Ketrampilan sosial yang baik tidak muncul begitu saja pada anak-anak – ketrampilan itu perlu diajarkan. Ini artinya Anda perlu mengupayakan hal itu atas diri anak Anda, dan semakin dini Anda memulainya, semakin baik hasilnya. Rasa malu meningkat pada usia anak-anak, sehingga Anda perlu memulainya sejak dini kepada anak Anda. Jika Anda tidak tahu bagaimana mengembangkan ketrampilan sosial pada anak Anda, mulailah dengan menetapkan hari untuk bermain bersama sehingga anak Anda memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan anak lain sejak usia dini. Luangkan waktu di rumah untuk melatih ketrampilan sosial, seperti memberikan pujian, memperkenalkan orang, atau bahkan berjabat tangan dengan orang lain. Ajarkan anak tentang pertemanan dan bagaimana menjadi teman yang baik. Semua ini merupakan cara mudah mengajarkan pentingnya ketrampilan sosial yang dapat membantu mereka mengatasi rasa malu dalam hidupnya kelak.

Bantu Anak Anda Mempelajari Rasa Hormat Dan Toleransi

Mereka yang pemalu seringkali lebih gampamg menghakimi – baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Jika Anda mudah menghakimi diri sendiri, anak Anda akan belajar seperti itu juga. Ketika Anda mengkritik orang lain, Anda sedang mengajarkan kepada anak-anak Anda bahwa ketika mereka keluar rumah, orang-orang akan menghakimi mereka juga, yang justru dapat membuat mereka semakin menjadi pemalu. Hal ini dapat menyebabkan mereka menarik diri ke dalam dunia mereka sendiri yang penuh dengan rasa malu. Sangatlah penting bagi Anda untuk mengajari anak Anda mengenai rasa hormat dan bertoleransi terhadap orang lain. Ajar mereka untuk menghormati orang lain bahkan jika mereka memiliki kekurangan. Biarkan mereka tahu bahwa tidak ada orang yang sempurna, tetapi setiap orang berharga dan harus ditoleransi meskipun berada dalam ketidaksempurnaan. Berikan pujian kepada orang lain dan bukan mencelanya.

Anda juga perlu menghindar untuk memicu rasa malu anak Anda dengan cara yang negatif, yang juga merupakan cara untuk menilai anak Anda. Rasa malu memang tidak dapat dijadikan alasan dalam berperilaku, namun jangan memberikan label kepada anak Anda sebagai seorang anak yang pemalu dengan cara yang negatif. Sebaliknya, temukan cara agar Anda dapat memberikan pujian sambil membantu anak Anda untuk mengatasi rasa malu yang mereka hadapi.

Bila Anda Membutuhkan Bantuan

Ada beberapa kasus dimana anak Anda mungkin hanya berurusan dengan rasa malu. Namun, ada saat dimana hal ini bisa menjadi hal yang lebih serius, seperti gangguan kecemasan sosial yang parah. Terkadang anak-anak dapat mengalami lebih dari sekedar malu dan mereka mungkin menjadi depresi, kesepian, terisolasi, bahkan merasa putus asa. Dalam beberapa kasus, hal ini dapat mengakibatkan serangan kepanikan ketika mereka dimasukkan ke dalam situasi sosial. Hal ini bukanlah masalah sederhana yang perlu diabaikan. Jika Anda merasa anak Anda berurusan demgan lebih dari sekedar rasa malu, jangan tunggu untuk mencari bantuan. Merupakan sebuah ide yang baik untuk menemukan seorang psikolog yang baik dan terlatih dalam menangani masalah pada anak-anak.

Mengasuh anak pemalu bisa menjadi hal yang sulit, namun jika Anda melakukannya sebagai tim dengan anak Anda, mereka dapat mengatasi rasa malu mereka, yang dapat membantu mereka di masa yang akan datang. Gunakan tips dan ide ini kepada anak Anda dan ingatlah, jika sepertinya masalah anak Anda lebih dari sekedar rasa malu, segera cari bantuan yang diperlukan anak Anda.

Sumber : more4kids.info

Share |

Pendidikan Keuangan yang di Ajarkan Obama untuk Anak Anak nya

Anak-anak Obama memang tinggal di tempat yang paling ekslusif di Amerika, tapi ayah mereka mengharapkan bahwa mereka dapat mengatur sendiri keuangan mereka dan mungkin dapat menambahnya dengan menjadi baby sitter. Itulah yang dilakukan dan dikatakan Obama kepada anak-anaknya. Dalam salah satu acara televisi, Obama pernah mengungkapkan hal itu. Dia mengajarkan anak-anaknya Malia dan Sasha tentang tabungan, minat, dan pengaturan uang.
“Apa yang saya sekarang lakukan dengan Malia dan Sasha adalah agar mereka mendapatkan uang tambahan,” katanya tanpa menyebutkan berapa uang yang mereka dapatkan. “Mereka mulai bertumbuh cukup dewasa agar bisa menghasilkan uang dari menjaga bayi. Mereka punya tabungan mereka sendiri.”
Obama menekankan ini semua kepada anak-anaknya bukan karena tidak mengasihi mereka, namun justru karena kasihlah dia mengajarkan mereka sedari dini agar tidak bergantung dan dapat mencari uang sendiri. Tentunya Obama berharap ketika mereka dewasa nanti, mereka dapat tetap menghasilkan uang, meskipun keadaan ekonomi negara sedang buruk sekalipun, seperti keadaan ekonomi Amerika yang memburuk beberapa waktu belakangan ini.
Bagi Anda yang mungkin hidup dalam berkecukupan, hendaklah anak-anak jangan dibiasakan untuk meminta dan meminta uang saja dari Anda. Biasakan mereka untuk dapat hidup mandiri dalam batas-batas yang wajar. Jika mereka menginginkan suatu barang, pastikan dulu barang yang diinginkan itu bermanfaat buat mereka. Lalu, Anda bisa ‘menukarnya’ dengan pekerjaan yang harus mereka lakukan. Misalnya saja, membersihkan meja makan, menyapu, atau yang lainnya. Jika mereka cukup dewasa, ajarkan mereka untuk mandiri seperti yang Obama ajarkan kepada anak-anaknya sehingga ke depannya anak Anda dapat hidup mapan dan sudah terarah.

Sumber : telegraph/lh3

Share |
Anak-anak Obama memang tinggal di tempat yang paling ekslusif di Amerika, tapi ayah mereka mengharapkan bahwa mereka dapat mengatur sendiri keuangan mereka dan mungkin dapat menambahnya dengan menjadi baby sitter. Itulah yang dilakukan dan dikatakan Obama kepada anak-anaknya. Dalam salah satu acara televisi, Obama pernah mengungkapkan hal itu. Dia mengajarkan anak-anaknya Malia dan Sasha tentang tabungan, minat, dan pengaturan uang.
“Apa yang saya sekarang lakukan dengan Malia dan Sasha adalah agar mereka mendapatkan uang tambahan,” katanya tanpa menyebutkan berapa uang yang mereka dapatkan. “Mereka mulai bertumbuh cukup dewasa agar bisa menghasilkan uang dari menjaga bayi. Mereka punya tabungan mereka sendiri.”
Obama menekankan ini semua kepada anak-anaknya bukan karena tidak mengasihi mereka, namun justru karena kasihlah dia mengajarkan mereka sedari dini agar tidak bergantung dan dapat mencari uang sendiri. Tentunya Obama berharap ketika mereka dewasa nanti, mereka dapat tetap menghasilkan uang, meskipun keadaan ekonomi negara sedang buruk sekalipun, seperti keadaan ekonomi Amerika yang memburuk beberapa waktu belakangan ini.
Bagi Anda yang mungkin hidup dalam berkecukupan, hendaklah anak-anak jangan dibiasakan untuk meminta dan meminta uang saja dari Anda. Biasakan mereka untuk dapat hidup mandiri dalam batas-batas yang wajar. Jika mereka menginginkan suatu barang, pastikan dulu barang yang diinginkan itu bermanfaat buat mereka. Lalu, Anda bisa ‘menukarnya’ dengan pekerjaan yang harus mereka lakukan. Misalnya saja, membersihkan meja makan, menyapu, atau yang lainnya. Jika mereka cukup dewasa, ajarkan mereka untuk mandiri seperti yang Obama ajarkan kepada anak-anaknya sehingga ke depannya anak Anda dapat hidup mapan dan sudah terarah.

Sumber : telegraph/lh3

Share |

Tips SBY Dalam Mendidik Anak

Beberapa waktu yang lalu kita memperingati Hari Anak Nasional. Banyak pihak yang mengapresiasi peringatan ini dengan menyelenggarakan berbagai momentum. Begitu pula dengan Susilo Bambang Yudhoyono. Sedikit banyak, dia membagikan tips dalam mengasuh anak-anak. Tips-tips apa sajakah itu?

Masa keemasan untuk pengetahuan adalah 12 tahun pertama

Karena itulah, menurut SBY kita perlu membangun sikap maupun perilaku seseorang pada tahun-tahun itu sehingga mereka akan terbentuk menjadi pribadi yang baik dan generasi yang gemilang. Tentunya selain guru, peran orangtua merupakan peran yang paling penting untuk membangun karakter seseorang.

Anak-anak harus bercita-cita setinggi langit minimal dua

Presiden menegaskan bahwa anak-anak harus bercita-cita setinggi langit, jangan cuma satu tapi minimal dua. Kalau gagal yang pertama, anak-anak masih mempunyai cita-cita satunya lagi. Untuk itulah, orangtua harus ikut membantu anak dalam mempersiapkan diri, cita-cita apa yang mereka inginkan.

Mendidik karakter anak

Menurutnya, pendidikan karakter sangatlah penting karena sangat menentukan kemajuan peradaban bangsa, yang tak hanya unggul tetapi juga cerdas. “Mengapa karakter manusia dan bangsa itu penting. Aristoteles pernah mengatakan bahwa ada dua keunggulan manusia yang disebut human excellence. Pertama, excellence of tought (kehebatan dalam pemikiran) dan kedua adalah excellence of character (kehebatan dalam karakter),” kata SBY.

Anak-anak butuh perlindungan

Anak-anak membutuhkan pengasuhan dan perlindungan dari berbagai bentuk kekerasan, termasuk kekerasan rumah tangga. Asuh dengan penuh tanggung jawab, hentikan tindakan negative, tidak terpuji, diskriminasi, dan perdagangan anak.
Maka dari itu, anak-anak perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Betapa pentingnya mereka dibentuk dalam tahun-tahun pertama kehidupan mereka, bagaimana pendidikan yang benar itu harus dilakukan. Jadi, Anda bisa mencoba tips-tips yang dibagikan ini.

Sumber : berbagai sumber/lh3

Share |
Beberapa waktu yang lalu kita memperingati Hari Anak Nasional. Banyak pihak yang mengapresiasi peringatan ini dengan menyelenggarakan berbagai momentum. Begitu pula dengan Susilo Bambang Yudhoyono. Sedikit banyak, dia membagikan tips dalam mengasuh anak-anak. Tips-tips apa sajakah itu?

Masa keemasan untuk pengetahuan adalah 12 tahun pertama

Karena itulah, menurut SBY kita perlu membangun sikap maupun perilaku seseorang pada tahun-tahun itu sehingga mereka akan terbentuk menjadi pribadi yang baik dan generasi yang gemilang. Tentunya selain guru, peran orangtua merupakan peran yang paling penting untuk membangun karakter seseorang.

Anak-anak harus bercita-cita setinggi langit minimal dua

Presiden menegaskan bahwa anak-anak harus bercita-cita setinggi langit, jangan cuma satu tapi minimal dua. Kalau gagal yang pertama, anak-anak masih mempunyai cita-cita satunya lagi. Untuk itulah, orangtua harus ikut membantu anak dalam mempersiapkan diri, cita-cita apa yang mereka inginkan.

Mendidik karakter anak

Menurutnya, pendidikan karakter sangatlah penting karena sangat menentukan kemajuan peradaban bangsa, yang tak hanya unggul tetapi juga cerdas. “Mengapa karakter manusia dan bangsa itu penting. Aristoteles pernah mengatakan bahwa ada dua keunggulan manusia yang disebut human excellence. Pertama, excellence of tought (kehebatan dalam pemikiran) dan kedua adalah excellence of character (kehebatan dalam karakter),” kata SBY.

Anak-anak butuh perlindungan

Anak-anak membutuhkan pengasuhan dan perlindungan dari berbagai bentuk kekerasan, termasuk kekerasan rumah tangga. Asuh dengan penuh tanggung jawab, hentikan tindakan negative, tidak terpuji, diskriminasi, dan perdagangan anak.
Maka dari itu, anak-anak perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Betapa pentingnya mereka dibentuk dalam tahun-tahun pertama kehidupan mereka, bagaimana pendidikan yang benar itu harus dilakukan. Jadi, Anda bisa mencoba tips-tips yang dibagikan ini.

Sumber : berbagai sumber/lh3

Share |

Senin, 23 Mei 2011

Berhubungan Intim Saat Kehamilan

Libur berhubungan intim saat hamil? Nanti dulu, sebaiknya jangan stop sama sekali. Hubungan seksual, baik sedang hamil atau tidak, merupakan salah satu bagian penting sebagai ungkapan sayang, aman, kebersamaan, dan kedekatan antara suami-istri. Selama kondisi kehamilan Anda sehat, hubungan seksual tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kesehatan janin.

Memang, tak semua ibu hamil bisa berhubungan intim dengan dengan bebas. Berdasarkan pemeriksaan dokter, ada beberapa keadaan yang membuat Anda dan suami terpaksa libur berhubungan intim. Ini perlu dipatuhi mengingat jika dipaksakan akan membahayakan ibu dan janinnya. Berikut beberapa kondisi yang harus diperhatikan:

Mulut rahim cenderung terbuka (inkompetensi serviks). Kondisi rahim yang bagus berbentuk T. Meski begitu, saat hamil bentuknya bisa berubah menjadi seperti huruf Y, V, lalu akhirnya U. Jika berbentuk U, maka janin bisa begitu saja meluncur keluar, rawan keguguran, atau lahir prematur. Pada kondisi ini, hubungan intim tidak dianjurkan karena sangat membahayakan kondisi rahim dan janin. Setidaknya, sampai dokter mengizinkan, setelah sebelumnya mungkin dilakukan operasi kecil untuk "mengikat" rahim, yang kemudian baru akan dibuka menjelang persalinan.

Pecah ketuban. Berhubungan intim pun dilarang ketika Anda mengalami pecah ketuban. Ditandai dengan adanya cairan yang merembes keluar melalui vagina. Ini menunjukkan, perlindungan janin ikut bocor, sehingga kuman mudah masuk, lalu menginfeksi janin. Pada kondisi ini, aktivitas seksual rentan sekali dengan invasi kuman dari area vagina ke dalam rahim.

Plasenta previa. Plasenta yang letaknya rendah atau di bawah menutup sebagian atau seluruh jalan lahir. Hubungan seks bisa memicu perdarahan yang dapat membahayakan jiwa ibu dan janinnya. Jangankan berhubungan seks, tak berhubungan pun perdarahan sangat mungkin terjadi. Itulah mengapa, jika ada gangguan ini, hubungan seks dilarang dilakukan sampai dokter mengizinkan setelah sebelumnya melakukan pemeriksaan menyeluruh.

Rawan keguguran/persalinan prematur. Ada ibu yang kehamilannya sangat lemah, mudah keguguran, atau lahir prematur. Ada rangsangan sedikit saja, janin bisa gugur atau lahir prematur. Biasanya dialami ibu yang memiliki "rahim lemah" dengan riwayat keguguran dan persalinan prematur sebelumnya. Hindari berhubungan intim sampai dokter memberi "lampu hijau".

Perdarahan per vaginam. Tanpa diketahui penyebabnya, kadang-kadang terjadi perdarahan. Sebaiknya tunda berhubungan intim sampai keadaan aman karena dikhawatirkan tengah terjadi proses keguguran. Anda harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan segera.

Serviks pendek/tipis. Beberapa perempuan memiliki serviks pendek atau tipis, kurang dari 2,5 cm. Penyebabnya hingga kini belum diketahui secara pasti. Namun yang jelas, hal ini sangat membahayakan kehamilan yang sewaktu-waktu bisa mengalami perdarahan atau keguguran. Jika di trimester kedua, tepatnya 16-20 minggu, panjang serviks kurang dari 2,5 cm, maka akan dilakukan "pengikatan" mulut rahim supaya bisa terus melangsungkan proses kehamilan.

Penyakit menular seksual (PMS). Jika suami mengidap penyakit menular seksual, seperti gonore, sifilis, atau bahkan HIV/AIDS, maka hubungan seksual sangat tidak dianjurkan. Risikonya sangat berbahaya, penyakit dapat menular ke ibu sehingga meningkatkan risiko keguguran atau lahir prematur, juga dapat menginfeksi janin dan dikhawatirkan terjadi kecacatan pertumbuhan.

Nah, jika pada Anda dan suami tidak terdapat hambatan seperti yang disebutkan barusan, maka jangan ragu untuk melakukan kesenangan intim. Malah, di hari-hari menjelang tanggal perkiraan persalinan, hubungan seks semakin dianjurkan bagi ibu yang akan melahirkan normal. Sperma ternyata membawa hormon prostaglandin yang dapat membantu Anda mengalami kontraksi teratur agar bayi dapat lahir pada waktunya.

Narasumber: Dr Stephen Mandang, SpOG, M.BiomedSc., dari Siloam Hospitals Kebon Jeruk, Jakarta

(Tabloid Nakita/Irfan Hasuki)
Libur berhubungan intim saat hamil? Nanti dulu, sebaiknya jangan stop sama sekali. Hubungan seksual, baik sedang hamil atau tidak, merupakan salah satu bagian penting sebagai ungkapan sayang, aman, kebersamaan, dan kedekatan antara suami-istri. Selama kondisi kehamilan Anda sehat, hubungan seksual tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kesehatan janin.

Memang, tak semua ibu hamil bisa berhubungan intim dengan dengan bebas. Berdasarkan pemeriksaan dokter, ada beberapa keadaan yang membuat Anda dan suami terpaksa libur berhubungan intim. Ini perlu dipatuhi mengingat jika dipaksakan akan membahayakan ibu dan janinnya. Berikut beberapa kondisi yang harus diperhatikan:

Mulut rahim cenderung terbuka (inkompetensi serviks). Kondisi rahim yang bagus berbentuk T. Meski begitu, saat hamil bentuknya bisa berubah menjadi seperti huruf Y, V, lalu akhirnya U. Jika berbentuk U, maka janin bisa begitu saja meluncur keluar, rawan keguguran, atau lahir prematur. Pada kondisi ini, hubungan intim tidak dianjurkan karena sangat membahayakan kondisi rahim dan janin. Setidaknya, sampai dokter mengizinkan, setelah sebelumnya mungkin dilakukan operasi kecil untuk "mengikat" rahim, yang kemudian baru akan dibuka menjelang persalinan.

Pecah ketuban. Berhubungan intim pun dilarang ketika Anda mengalami pecah ketuban. Ditandai dengan adanya cairan yang merembes keluar melalui vagina. Ini menunjukkan, perlindungan janin ikut bocor, sehingga kuman mudah masuk, lalu menginfeksi janin. Pada kondisi ini, aktivitas seksual rentan sekali dengan invasi kuman dari area vagina ke dalam rahim.

Plasenta previa. Plasenta yang letaknya rendah atau di bawah menutup sebagian atau seluruh jalan lahir. Hubungan seks bisa memicu perdarahan yang dapat membahayakan jiwa ibu dan janinnya. Jangankan berhubungan seks, tak berhubungan pun perdarahan sangat mungkin terjadi. Itulah mengapa, jika ada gangguan ini, hubungan seks dilarang dilakukan sampai dokter mengizinkan setelah sebelumnya melakukan pemeriksaan menyeluruh.

Rawan keguguran/persalinan prematur. Ada ibu yang kehamilannya sangat lemah, mudah keguguran, atau lahir prematur. Ada rangsangan sedikit saja, janin bisa gugur atau lahir prematur. Biasanya dialami ibu yang memiliki "rahim lemah" dengan riwayat keguguran dan persalinan prematur sebelumnya. Hindari berhubungan intim sampai dokter memberi "lampu hijau".

Perdarahan per vaginam. Tanpa diketahui penyebabnya, kadang-kadang terjadi perdarahan. Sebaiknya tunda berhubungan intim sampai keadaan aman karena dikhawatirkan tengah terjadi proses keguguran. Anda harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan segera.

Serviks pendek/tipis. Beberapa perempuan memiliki serviks pendek atau tipis, kurang dari 2,5 cm. Penyebabnya hingga kini belum diketahui secara pasti. Namun yang jelas, hal ini sangat membahayakan kehamilan yang sewaktu-waktu bisa mengalami perdarahan atau keguguran. Jika di trimester kedua, tepatnya 16-20 minggu, panjang serviks kurang dari 2,5 cm, maka akan dilakukan "pengikatan" mulut rahim supaya bisa terus melangsungkan proses kehamilan.

Penyakit menular seksual (PMS). Jika suami mengidap penyakit menular seksual, seperti gonore, sifilis, atau bahkan HIV/AIDS, maka hubungan seksual sangat tidak dianjurkan. Risikonya sangat berbahaya, penyakit dapat menular ke ibu sehingga meningkatkan risiko keguguran atau lahir prematur, juga dapat menginfeksi janin dan dikhawatirkan terjadi kecacatan pertumbuhan.

Nah, jika pada Anda dan suami tidak terdapat hambatan seperti yang disebutkan barusan, maka jangan ragu untuk melakukan kesenangan intim. Malah, di hari-hari menjelang tanggal perkiraan persalinan, hubungan seks semakin dianjurkan bagi ibu yang akan melahirkan normal. Sperma ternyata membawa hormon prostaglandin yang dapat membantu Anda mengalami kontraksi teratur agar bayi dapat lahir pada waktunya.

Narasumber: Dr Stephen Mandang, SpOG, M.BiomedSc., dari Siloam Hospitals Kebon Jeruk, Jakarta

(Tabloid Nakita/Irfan Hasuki)

Selasa, 12 April 2011

Efek Negatif Bila Anak Terlalu Gemuk

Tak dapat dipungkiri gizi anak di Indonesia menjadi persoalan yang sangat kompleks. Tidak hanya gizi buruk atau gizi kurang, tapi juga gizi berlebih yang memicu obesitas pada anak.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2010, kegemukan menimpa 14 persen balita secara nasional. Sebanyak 14,9 persen menimpa penduduk dengan pendapatan tinggi, dan 12,4 persen pada penduduk yang kekurangan secara materi.

"Fakta menunjukan bahwa anak yang kekurangan gizi dan kelebihan gizi berjumlah banyak baik dari keluarga kaya atau miskin. Ini menunjukkan bahwa bukan jumlah asupannya yang salah, tetapi pola makannya yang salah," ujar dr Minarto, MPS, Ketua DPP Persagi dalam seminar 'Gizi Lebih, Ancaman Tersembunyi Masa Depan Anak Indonesia,' Rabu, 20 April 2011.

Jumlah anak yang mengalami obesitas terus mengalami peningkatan setiap tahun. Pada 2007, terdapat 12,2 persen dan pada 2010 menjadi 14,2 persen. Menurut dr Minarto, itu akibat konsumsi pangan yang tak sehat.

Berdasarkan Direktori Pengembangan Konsumsi Pangan, BKP 2009, konsumsi minyak dan lemak telah melebihi batas maksimal yaitu 114 persen. Konsumsi nasi juga berlebih hingga 118,5 persen. "Inilah yang mengakibatkan anak-anak kita cenderung tumbuh pendek dan gemuk," ditambahkannya.

Dr Rini Sekartini dari Ikatan Dokter Anak Indonesia, menambahkan, obesitas pada anak dapat mengakibatkan dampak negatif bagi fisik dan psikologis. Dampak fisik adalah meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, gangguan tidur, gangguan saraf, resiko diabetes, dan penyakit sendi.

Sedangkan dampak obesitas pada psikologis anak adalah depresi, kepercayaan diri rendah, dan diet berlebih. "Ini terjadi karena anak merasa tidak percaya diri dan berbeda dengan anak lainnya sehingga dia ingin kurus dengan diet yang salah," ujar dr Rini.

Selain itu, adanya stigma bahwa anak dengan obesitas adalah anak yang malas, lamban, dan bodoh sehingga semakin memojokkan anak-anak tersebut. Dampak psikologis ini lebih terjadi pada anak
perempuan.

Menurut dr Saptawati Bardosono dari Departemen Ilmu Gizi KFUI-RSCM, obesitas terjadi karena beberapa faktor yaitu lingkungan, faktor budaya, dan pola hidup.

Anak-anak terbiasa menonton tayangan televisi dengan sergapan iklan camilan tidak sehat. Ini mendorong anak untuk mengonsumsinya. Selain itu, anggapan anak gemuk pertanda sehat juga mendorong kebanyakan ibu memberikan asupan yang berlebihan untuk anak. "Apalagi dulu pemilihan bayi sehat didasarkan pada kegemukan pada anak," ujarnya.

Orangtua pun sangat bertanggung jawab terhadap pola makan anak. Sebab, anak meniru pola hidup dari orangtua dan guru. "Karena itu, mereka harus jadi teladan untuk anak-anak mereka dalam mengatur pola makan dan juga berolahraga," dr Saptawati meambahkan.

Berdasarkan penelitan yang mengamati pola hidup anak, lebih 40 persen anak mengalami kelebihan kalori, dan 80 persen anak mengalami kelebihan protein. Semua ini karena kebiasaan mengonsumsi susu manis secara berlebihan. "Asupan gula pada anak tidak hanya dari laktosa, tetapi juga dari gula tambahan."

Apalagi, ada kebiasaan di masyarakat jika anak rewel tidak ingin makan, orang tua tidak mau repot dengan hanya memberikan anak mereka susu manis. Hal inilah yang mengakibatkan adanya peningkatan jumlah anak dengan obesitas di Indonesia.

Untuk mengatasinya, perhatikan asupan gizi anak. Tidak hanya di rumah dan lingkungan sekitar, tetapi juga di sekolah. Pastikan anak mengonsumsi lebih sedikit asupan energi, namun tetap memperhatikan presentase asupan yaitu karbohidrat 50 persen, Protein 16 persen, dan lemak 34 persen.

Anak pun dianjurkan untuk banyak beraktivitas karena semakin banyak energi yang terbuang semakin banyak pula kalori yang dibuang. Deteksi sejak dini dampak fisik dan psikologis anak, serta perilaku dan emosi anak. Jika anak terdeteksi memiliki risiko obesitas, segera libatkan psikolog. Menghadapi anak harus sabar.

Sumber:http://kosmo.vivanews.com/news/read/215877-efek-buruk-anak-gemuk
Tak dapat dipungkiri gizi anak di Indonesia menjadi persoalan yang sangat kompleks. Tidak hanya gizi buruk atau gizi kurang, tapi juga gizi berlebih yang memicu obesitas pada anak.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2010, kegemukan menimpa 14 persen balita secara nasional. Sebanyak 14,9 persen menimpa penduduk dengan pendapatan tinggi, dan 12,4 persen pada penduduk yang kekurangan secara materi.

"Fakta menunjukan bahwa anak yang kekurangan gizi dan kelebihan gizi berjumlah banyak baik dari keluarga kaya atau miskin. Ini menunjukkan bahwa bukan jumlah asupannya yang salah, tetapi pola makannya yang salah," ujar dr Minarto, MPS, Ketua DPP Persagi dalam seminar 'Gizi Lebih, Ancaman Tersembunyi Masa Depan Anak Indonesia,' Rabu, 20 April 2011.

Jumlah anak yang mengalami obesitas terus mengalami peningkatan setiap tahun. Pada 2007, terdapat 12,2 persen dan pada 2010 menjadi 14,2 persen. Menurut dr Minarto, itu akibat konsumsi pangan yang tak sehat.

Berdasarkan Direktori Pengembangan Konsumsi Pangan, BKP 2009, konsumsi minyak dan lemak telah melebihi batas maksimal yaitu 114 persen. Konsumsi nasi juga berlebih hingga 118,5 persen. "Inilah yang mengakibatkan anak-anak kita cenderung tumbuh pendek dan gemuk," ditambahkannya.

Dr Rini Sekartini dari Ikatan Dokter Anak Indonesia, menambahkan, obesitas pada anak dapat mengakibatkan dampak negatif bagi fisik dan psikologis. Dampak fisik adalah meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, gangguan tidur, gangguan saraf, resiko diabetes, dan penyakit sendi.

Sedangkan dampak obesitas pada psikologis anak adalah depresi, kepercayaan diri rendah, dan diet berlebih. "Ini terjadi karena anak merasa tidak percaya diri dan berbeda dengan anak lainnya sehingga dia ingin kurus dengan diet yang salah," ujar dr Rini.

Selain itu, adanya stigma bahwa anak dengan obesitas adalah anak yang malas, lamban, dan bodoh sehingga semakin memojokkan anak-anak tersebut. Dampak psikologis ini lebih terjadi pada anak
perempuan.

Menurut dr Saptawati Bardosono dari Departemen Ilmu Gizi KFUI-RSCM, obesitas terjadi karena beberapa faktor yaitu lingkungan, faktor budaya, dan pola hidup.

Anak-anak terbiasa menonton tayangan televisi dengan sergapan iklan camilan tidak sehat. Ini mendorong anak untuk mengonsumsinya. Selain itu, anggapan anak gemuk pertanda sehat juga mendorong kebanyakan ibu memberikan asupan yang berlebihan untuk anak. "Apalagi dulu pemilihan bayi sehat didasarkan pada kegemukan pada anak," ujarnya.

Orangtua pun sangat bertanggung jawab terhadap pola makan anak. Sebab, anak meniru pola hidup dari orangtua dan guru. "Karena itu, mereka harus jadi teladan untuk anak-anak mereka dalam mengatur pola makan dan juga berolahraga," dr Saptawati meambahkan.

Berdasarkan penelitan yang mengamati pola hidup anak, lebih 40 persen anak mengalami kelebihan kalori, dan 80 persen anak mengalami kelebihan protein. Semua ini karena kebiasaan mengonsumsi susu manis secara berlebihan. "Asupan gula pada anak tidak hanya dari laktosa, tetapi juga dari gula tambahan."

Apalagi, ada kebiasaan di masyarakat jika anak rewel tidak ingin makan, orang tua tidak mau repot dengan hanya memberikan anak mereka susu manis. Hal inilah yang mengakibatkan adanya peningkatan jumlah anak dengan obesitas di Indonesia.

Untuk mengatasinya, perhatikan asupan gizi anak. Tidak hanya di rumah dan lingkungan sekitar, tetapi juga di sekolah. Pastikan anak mengonsumsi lebih sedikit asupan energi, namun tetap memperhatikan presentase asupan yaitu karbohidrat 50 persen, Protein 16 persen, dan lemak 34 persen.

Anak pun dianjurkan untuk banyak beraktivitas karena semakin banyak energi yang terbuang semakin banyak pula kalori yang dibuang. Deteksi sejak dini dampak fisik dan psikologis anak, serta perilaku dan emosi anak. Jika anak terdeteksi memiliki risiko obesitas, segera libatkan psikolog. Menghadapi anak harus sabar.

Sumber:http://kosmo.vivanews.com/news/read/215877-efek-buruk-anak-gemuk

Sabtu, 09 April 2011

Bahaya Mengintai saat Anak Jajan di Luar

Tentu bagi sebagian orang, apalagi anak-anak kecil usia SD, jajanan di pinggir jalan dan di kantin-kantin sekolahan sangat menggiurkan. Dihiasi berbagai macam bentuk dan warna-warna yang menarik seperti gulali, rambut nenek, agar-agar, buah-buahan membuat anak-anak tidak dapat menahan hasrat untuk mengonsumsinya.

Ironisnya, anak-anak yang seharusnya diberikan asupan gizi yang baik justru diracuni dengan zat-zat berbahaya pada tubuh yang ada pada makanan-makanan tersebut. Menurut hasil pengawasan BPOM pada tahun 2008 hingga 2010, masih terdapat 40-44 persen jajanan yang mengandung zat yang berbahaya.

Tidak dapat dipungkiri, pangan jajanan anak sekolah (PJAS) masih diliputi dengan zat-zat berbahaya seperti pemanis buatan, boraks dan formalin, pewarna tekstil. Selain itu, lokasi pedagang menjajakan makanannya bukanlah merupakan tempat yang higenis dengan sistem sanitasi yang baik. Ini mengakibatkan tercemarnya jajanan dengan mikroba.

"Pada 2010, masih ada 13,5 persen anak yang mengalami keracunan karena jajanan yang dimakannya," ujar Kepala BPOM Kustantinah dalam seminar yang bertema 'Gizi Lebih, Ancaman Tersembunyi Masa Depan Anak Indonesia'.

Namun, setiap tahunnya angka PJAS yang mengandung zat berbahaya mengalami penurunan walaupun tidak signifikan. "Memang ada penurunan tapi tidak signifikan. Kita masih harus menjalankan strategi agar tidak kembali jajanan yang mengandung zat berbahaya," ujarnya.

Untuk mengatasi masalah ini, BPOM telah melakukan uji sampling terhadap jajanan-jajanan di Jakarta dan operasi dengan menggunakan mobil keliling ke sekolah-sekolah, serta penyebaran brosur makanan sehat, pembinaan terhadap orang tua dan guru, dan media promosi lainnya.

Dari usaha tersebut, 35 persen jajanan yang tidak memenuhi syarat, berhasil diturunkan menjadi 12 persen pada uji sampling hari ke-100.

Namun, perlindungan anak dari jajanan bahaya tidak hanya tanggung jawab BPOM. Karenanya, BPOM bersama dengan Menteri Kesehatan mengajak seluruh lapisan masyarakat dalam Gerakan nasional Pangan Jajanan Anak Sekolah Yang Aman Bermutu dan Bergizi.

Orangtua, guru, dan pemerintah bertanggung jawab dalam mengawasi asupan anak. Sebab, anak adalah generasi muda bangsa. "Merupakan tanggung jawab sebuah generasi untuk mempersiapkan generasi berikutnya," ujar Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih.

Karena itu, Menkes menganjurkan agar orang tua selalu membekali anak-anak mereka dengan makanan-makanan bergizi yang enak dan terlihat menarik agar anak tidak tergiur mengonsumsi jajanan yang belum terjamin kesehatannya. Menkes juga meminta agar sekolah-sekolah menyediakan kantin-kantin bersih dan sehat untuk anak didik mereka.

Sumber:http://kosmo.vivanews.com/news/read/215918-waspadai-bahaya-jajanan-anak
Tentu bagi sebagian orang, apalagi anak-anak kecil usia SD, jajanan di pinggir jalan dan di kantin-kantin sekolahan sangat menggiurkan. Dihiasi berbagai macam bentuk dan warna-warna yang menarik seperti gulali, rambut nenek, agar-agar, buah-buahan membuat anak-anak tidak dapat menahan hasrat untuk mengonsumsinya.

Ironisnya, anak-anak yang seharusnya diberikan asupan gizi yang baik justru diracuni dengan zat-zat berbahaya pada tubuh yang ada pada makanan-makanan tersebut. Menurut hasil pengawasan BPOM pada tahun 2008 hingga 2010, masih terdapat 40-44 persen jajanan yang mengandung zat yang berbahaya.

Tidak dapat dipungkiri, pangan jajanan anak sekolah (PJAS) masih diliputi dengan zat-zat berbahaya seperti pemanis buatan, boraks dan formalin, pewarna tekstil. Selain itu, lokasi pedagang menjajakan makanannya bukanlah merupakan tempat yang higenis dengan sistem sanitasi yang baik. Ini mengakibatkan tercemarnya jajanan dengan mikroba.

"Pada 2010, masih ada 13,5 persen anak yang mengalami keracunan karena jajanan yang dimakannya," ujar Kepala BPOM Kustantinah dalam seminar yang bertema 'Gizi Lebih, Ancaman Tersembunyi Masa Depan Anak Indonesia'.

Namun, setiap tahunnya angka PJAS yang mengandung zat berbahaya mengalami penurunan walaupun tidak signifikan. "Memang ada penurunan tapi tidak signifikan. Kita masih harus menjalankan strategi agar tidak kembali jajanan yang mengandung zat berbahaya," ujarnya.

Untuk mengatasi masalah ini, BPOM telah melakukan uji sampling terhadap jajanan-jajanan di Jakarta dan operasi dengan menggunakan mobil keliling ke sekolah-sekolah, serta penyebaran brosur makanan sehat, pembinaan terhadap orang tua dan guru, dan media promosi lainnya.

Dari usaha tersebut, 35 persen jajanan yang tidak memenuhi syarat, berhasil diturunkan menjadi 12 persen pada uji sampling hari ke-100.

Namun, perlindungan anak dari jajanan bahaya tidak hanya tanggung jawab BPOM. Karenanya, BPOM bersama dengan Menteri Kesehatan mengajak seluruh lapisan masyarakat dalam Gerakan nasional Pangan Jajanan Anak Sekolah Yang Aman Bermutu dan Bergizi.

Orangtua, guru, dan pemerintah bertanggung jawab dalam mengawasi asupan anak. Sebab, anak adalah generasi muda bangsa. "Merupakan tanggung jawab sebuah generasi untuk mempersiapkan generasi berikutnya," ujar Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih.

Karena itu, Menkes menganjurkan agar orang tua selalu membekali anak-anak mereka dengan makanan-makanan bergizi yang enak dan terlihat menarik agar anak tidak tergiur mengonsumsi jajanan yang belum terjamin kesehatannya. Menkes juga meminta agar sekolah-sekolah menyediakan kantin-kantin bersih dan sehat untuk anak didik mereka.

Sumber:http://kosmo.vivanews.com/news/read/215918-waspadai-bahaya-jajanan-anak

Kamis, 07 April 2011

Tips Agar Otak Anak Menjadi Lebih Cerdas

Orangtua mana yang tak bahagia dengan kehadiran si buah hati. Hanya, masih banyak anak yang dikembangkan dengan cara tidak tepat sehingga kemampuan otaknya kurang sempurna.

Dokter Soedjatmiko, Sp.A(K), Msi, dokter spesialis anak dan konsultan tumbuh kembang-pediatri sosial, mengatakan, mengembangkan otak anak tidak hanya tergantung asupan gizi, tetapi juga kasih sayang dan stimulus.

Kasih sayang itu bisa berupa pemberian rasa aman, nyaman, dilindungi, diperhatikan, dihargai, rasa senang, dan koreksi (bukan ancaman dan hukuman).

“Sedangkan stimulus adalah memberikan stimulus untuk mengasah sensorik, motorik, emosi-sosial, bicara, kognitif, mandiri, kreativitas, kepemimpinan, moral, dan spiritual,” katanya.

Soedjatmiko menambahkan, dewasa ini terjadi fenomena pertumbuhan anak yang cukup memprihatinkan. Bagi keluarga miskin, wajar jika tumbuh kembang anak terbatas karena tidak mampu memberikan nutrisi cukup. Keterbatasan finansial juga membatasi akses ke dunia pendidikan.

Namun ironisnya, gagalnya tumbuh kembang anak juga terjadi pada keluarga mampu secara finansial. Ini karena, orangtua tidak memiliki waktu memberikan kasih sayang dan stimulus yang cukup untuk membantu perkembangan sel-sel otak dan neurotransmitter pada otak anak.

Padahal, ketiga faktor eksternal ini saling melengkapi dan membantu menciptakan anak menjadi generasi yang baik, selain faktor keturunan. Jika salah satu faktor tidak dilengkapi maka anak pun gagal berkembang secara sempurna.

"Usia dua tahun pertama merupakan usia di mana anak memerlukan kelengkapan nutrisi, kasih sayang, dan stimulus untuk menciptakan perkembangan tubuh, emosi, dan mentalnya semasa hidup," ujarnya.

Pada dua tahun pertama, aktivitas otak anak dalam keadaan yang sangat aktif dalam membentuk sel otak, percabangan sel, neurotransmitter, dan zat-zat kimia pada otak.

Ketiga faktor ini sangat berpengaruh terhadap jumlah sel otak dan percabangan sel otak. Jika ketiga faktor ini terpenuhi, maka muncul sel-sel otak dan percabangan sel yang bersinergis. Jika tidak terpenuhi, maka pada otak anak terdapat hanya sedikit sel-sel otak (pertumbuhan terhambat), percabangan sel otak pun tidak bersinergis.

Ditambahkan Soedjatmiko, "Jika salah satu tidak terpenuhi, pertumbuhan anak akan terhambat, anak tidak dapat mengendalikan emosi, tidak terampil dalam memecahkan masalah, gangguan perilaku."

Karena itulah, tumbuh kembang anak sangat bergantung pada bagaimana orangtua memberikan kasih sayang dan pendidikan. Orangtua dianjurkan selalu dapat meluangkan waktu untuk si buah hati karena masa depan anak berawal dari ajaran orangtua di masa pembentukan otak bayi. (pie)

Sumber:http://kosmo.vivanews.com/news/read/214705-apa-yang-bikin-otak-bayi-cemerlang-
Orangtua mana yang tak bahagia dengan kehadiran si buah hati. Hanya, masih banyak anak yang dikembangkan dengan cara tidak tepat sehingga kemampuan otaknya kurang sempurna.

Dokter Soedjatmiko, Sp.A(K), Msi, dokter spesialis anak dan konsultan tumbuh kembang-pediatri sosial, mengatakan, mengembangkan otak anak tidak hanya tergantung asupan gizi, tetapi juga kasih sayang dan stimulus.

Kasih sayang itu bisa berupa pemberian rasa aman, nyaman, dilindungi, diperhatikan, dihargai, rasa senang, dan koreksi (bukan ancaman dan hukuman).

“Sedangkan stimulus adalah memberikan stimulus untuk mengasah sensorik, motorik, emosi-sosial, bicara, kognitif, mandiri, kreativitas, kepemimpinan, moral, dan spiritual,” katanya.

Soedjatmiko menambahkan, dewasa ini terjadi fenomena pertumbuhan anak yang cukup memprihatinkan. Bagi keluarga miskin, wajar jika tumbuh kembang anak terbatas karena tidak mampu memberikan nutrisi cukup. Keterbatasan finansial juga membatasi akses ke dunia pendidikan.

Namun ironisnya, gagalnya tumbuh kembang anak juga terjadi pada keluarga mampu secara finansial. Ini karena, orangtua tidak memiliki waktu memberikan kasih sayang dan stimulus yang cukup untuk membantu perkembangan sel-sel otak dan neurotransmitter pada otak anak.

Padahal, ketiga faktor eksternal ini saling melengkapi dan membantu menciptakan anak menjadi generasi yang baik, selain faktor keturunan. Jika salah satu faktor tidak dilengkapi maka anak pun gagal berkembang secara sempurna.

"Usia dua tahun pertama merupakan usia di mana anak memerlukan kelengkapan nutrisi, kasih sayang, dan stimulus untuk menciptakan perkembangan tubuh, emosi, dan mentalnya semasa hidup," ujarnya.

Pada dua tahun pertama, aktivitas otak anak dalam keadaan yang sangat aktif dalam membentuk sel otak, percabangan sel, neurotransmitter, dan zat-zat kimia pada otak.

Ketiga faktor ini sangat berpengaruh terhadap jumlah sel otak dan percabangan sel otak. Jika ketiga faktor ini terpenuhi, maka muncul sel-sel otak dan percabangan sel yang bersinergis. Jika tidak terpenuhi, maka pada otak anak terdapat hanya sedikit sel-sel otak (pertumbuhan terhambat), percabangan sel otak pun tidak bersinergis.

Ditambahkan Soedjatmiko, "Jika salah satu tidak terpenuhi, pertumbuhan anak akan terhambat, anak tidak dapat mengendalikan emosi, tidak terampil dalam memecahkan masalah, gangguan perilaku."

Karena itulah, tumbuh kembang anak sangat bergantung pada bagaimana orangtua memberikan kasih sayang dan pendidikan. Orangtua dianjurkan selalu dapat meluangkan waktu untuk si buah hati karena masa depan anak berawal dari ajaran orangtua di masa pembentukan otak bayi. (pie)

Sumber:http://kosmo.vivanews.com/news/read/214705-apa-yang-bikin-otak-bayi-cemerlang-

Minggu, 06 Maret 2011

Cara yang Baik Mengajar Anak Arti Penderitaan dalam Hidup

Adalah cukup sulit bagi orang dewasa untuk memahami kesulitan kehidupan - penyakit, perceraian dan kematian. Namun cobalah menjelaskan hal itu pada anak-anak. Hal ini mungkin menjadi tantangan yang jauh lebih besar bagi orangtua.

Apa yang Anda katakan pada anak kecil yang kuatir tentang mengapa angin badai bisa membunuh begitu banyak orang dan membuat banyak orang kehilangan rumah? Bagaimana Anda menjelaskan tentang penderitan berjuta-juta anak-anak di Afrika yang menjadi yatim piatu akibat serangan wabah AIDS? Apa cara terbaik untuk menenangkan seorang anak yang terperangkap dalam desing peluru peperangan?

Bruce Bickel dan Stan Jantz, penulis buku yang baru dirilis God In the Hard Stuff (Barbour Publising) mengetahui betapa sulitnya bicara pada anak-anak tentang masalah-masalah sulit yang ada dalam kehidupan. Dan mereka berpikir mereka harus punya sejumlah saran praktis yang bisa menolong.

Bickel mengatakan : "Anak-anak menginginkan jawaban penuh kejujuran yang dapat menolong mereka dan menjadikannya sebagai hal yang masuk akal tentang penderitaan di dunia. Hal terburuk yang kita sebagai orang dewasa lakukan ialah menghindari pembicaraan itu, berharap anak-anak mengalihkan pembicaraan pada pokok lainnya".

Jantz menambahkan : "Hampir semua orang dewasa dapat bergulat dengan isu yang sukar sepanjang waktu dan dapat memelihara kehidupan secara normal. Namun anak-anak kemungkinan tidak dapat bergerak hingga pertanyaan mereka terjawab".

Bickel dan Jantz datang dengan sejumlah ceklist dimana orangtua (dan siapapun yang bekerja dengan anak kecil) dapat memakainya ketika berbicara dengan anak-anak tentang masalah yang sulit dalam kehidupan dan tentang penderitaan yang bisa diakibatkannya. Apakah topiknya tentang bencana alam yang baru terjadi atau kematian hewan peliharaan keluarga, prinsip ini akan menolong memberi kerangka pada pembicaraan.

1. Pastikan Anda Memiliki Pemahaman Spiritual Yang Benar Tentang Penderitaan

Sebelum Anda dapat merespon pada pertanyaan anak-anak tentang penderitaan, Anda perlu mengerti bagaimana penderitaan pantas bagi dunia, yang lebih penting, bagaimana penderitaan bisa selaras dengan rencana Tuhan bagi dunia. Jika seorang anak sudah diajar bahwa Tuhan mengasihi mereka, anak-anak mungkin ingin tahu mengapa Tuhan yang Pengasih itu membiarkan hal buruk terjadi di dunia ini.

2. Tentukan Tingkatan Ketertarikan Anak

Sebelum Anda mulai menawarkan penjelasan dan pemahaman terhadap isu tersebut, pastikan Anda mengetahui tingkatan ketertarikan anak. Seorang anak yang lebih muda yang menginginkan jawaban sederhana mungkin akan pusing jika Anda mencoba mengatakan penjelasan yang terlalu rumit.

3. Titik Beratkan Kedaulatan Tuhan (Namun Jangan Pakai Kata-Kata "Kedaulatan")

Jika seorang anak ditanyai pertanyaan tentang penderitaan, jangan terlalu cepat untuk memperkenalkan konsep kedaulatan Tuhan. Seorang anak bisa mengalami kesulitan oleh masalah di dunia ketika kelihatannya Tuhan tidak peduli kebutuhan untuk memberi jaminan bahwa Dia masih memegang kendali. Hanya karena Tuhan mengijinkan hal-hal itu terjadi, bukan berarti Dia tidak mampu atau tidak bersedia untuk menolong kita.

4. Bawalah Cara Pandang Kekekalan Dalam Percakapan

Adalah penting untuk berbicara pada anak-anak tentang Surga, bukan seperti menceritakan kisah peri dalam dongeng, namun sebagai rumah abadi yang Tuhan telah siapkan bagi mereka. Jika seorang anak mengerti bahwa ada lebih banyak yang harus dihidupi dibanding kesulitaan saat ini, dia akan lebih baik dalam memperlengkapi dirinya untuk menangani masalah.

5. Menjalani Penderitaan Anda Melalui Cara Pandang Yang Pantas

Anak memiliki kemampuan untuk mengerti dan tanggap secara luar biasa. Jika mereka merasa bahwa Anda tidak meletakkan pergumulan Anda pada sudut pandang yang bersifat kekekalan, mereka akan kurang mendengarkan apa yang Anda katakan. Apakah Anda telah mempercayakan beban dan pencobaan yang Anda alami pada Tuhan? Apakah Anda percaya pada Tuhan untuk hasil akhirnya? Iman Anda pada kedaulatan Tuhan yang mencintai Anda akan memberi ketenangan pada anak-anak Anda.

Ini bukanlah isu yang mudah ditangani - tidak untuk orang dewasa, apalagi untuk anak-anak. Namun mereka perlu dijelaskan, karena penderitaan adalah bagian dari dunia ini. Penulis buku ini mengatakan : "Penderitaan dalam segala hal adalah sulit, namun itu bukanlah sesuatu yang harus membuat Anda malu. Pada kenyataannya, mereka yang menderita akan mendapatkan cara pandang terhadap kehidupan dan memberi penghargaan dan pujian pada Tuhan yang tidak dimiliki orang lainnya".

Sumber : cbn.com
Adalah cukup sulit bagi orang dewasa untuk memahami kesulitan kehidupan - penyakit, perceraian dan kematian. Namun cobalah menjelaskan hal itu pada anak-anak. Hal ini mungkin menjadi tantangan yang jauh lebih besar bagi orangtua.

Apa yang Anda katakan pada anak kecil yang kuatir tentang mengapa angin badai bisa membunuh begitu banyak orang dan membuat banyak orang kehilangan rumah? Bagaimana Anda menjelaskan tentang penderitan berjuta-juta anak-anak di Afrika yang menjadi yatim piatu akibat serangan wabah AIDS? Apa cara terbaik untuk menenangkan seorang anak yang terperangkap dalam desing peluru peperangan?

Bruce Bickel dan Stan Jantz, penulis buku yang baru dirilis God In the Hard Stuff (Barbour Publising) mengetahui betapa sulitnya bicara pada anak-anak tentang masalah-masalah sulit yang ada dalam kehidupan. Dan mereka berpikir mereka harus punya sejumlah saran praktis yang bisa menolong.

Bickel mengatakan : "Anak-anak menginginkan jawaban penuh kejujuran yang dapat menolong mereka dan menjadikannya sebagai hal yang masuk akal tentang penderitaan di dunia. Hal terburuk yang kita sebagai orang dewasa lakukan ialah menghindari pembicaraan itu, berharap anak-anak mengalihkan pembicaraan pada pokok lainnya".

Jantz menambahkan : "Hampir semua orang dewasa dapat bergulat dengan isu yang sukar sepanjang waktu dan dapat memelihara kehidupan secara normal. Namun anak-anak kemungkinan tidak dapat bergerak hingga pertanyaan mereka terjawab".

Bickel dan Jantz datang dengan sejumlah ceklist dimana orangtua (dan siapapun yang bekerja dengan anak kecil) dapat memakainya ketika berbicara dengan anak-anak tentang masalah yang sulit dalam kehidupan dan tentang penderitaan yang bisa diakibatkannya. Apakah topiknya tentang bencana alam yang baru terjadi atau kematian hewan peliharaan keluarga, prinsip ini akan menolong memberi kerangka pada pembicaraan.

1. Pastikan Anda Memiliki Pemahaman Spiritual Yang Benar Tentang Penderitaan

Sebelum Anda dapat merespon pada pertanyaan anak-anak tentang penderitaan, Anda perlu mengerti bagaimana penderitaan pantas bagi dunia, yang lebih penting, bagaimana penderitaan bisa selaras dengan rencana Tuhan bagi dunia. Jika seorang anak sudah diajar bahwa Tuhan mengasihi mereka, anak-anak mungkin ingin tahu mengapa Tuhan yang Pengasih itu membiarkan hal buruk terjadi di dunia ini.

2. Tentukan Tingkatan Ketertarikan Anak

Sebelum Anda mulai menawarkan penjelasan dan pemahaman terhadap isu tersebut, pastikan Anda mengetahui tingkatan ketertarikan anak. Seorang anak yang lebih muda yang menginginkan jawaban sederhana mungkin akan pusing jika Anda mencoba mengatakan penjelasan yang terlalu rumit.

3. Titik Beratkan Kedaulatan Tuhan (Namun Jangan Pakai Kata-Kata "Kedaulatan")

Jika seorang anak ditanyai pertanyaan tentang penderitaan, jangan terlalu cepat untuk memperkenalkan konsep kedaulatan Tuhan. Seorang anak bisa mengalami kesulitan oleh masalah di dunia ketika kelihatannya Tuhan tidak peduli kebutuhan untuk memberi jaminan bahwa Dia masih memegang kendali. Hanya karena Tuhan mengijinkan hal-hal itu terjadi, bukan berarti Dia tidak mampu atau tidak bersedia untuk menolong kita.

4. Bawalah Cara Pandang Kekekalan Dalam Percakapan

Adalah penting untuk berbicara pada anak-anak tentang Surga, bukan seperti menceritakan kisah peri dalam dongeng, namun sebagai rumah abadi yang Tuhan telah siapkan bagi mereka. Jika seorang anak mengerti bahwa ada lebih banyak yang harus dihidupi dibanding kesulitaan saat ini, dia akan lebih baik dalam memperlengkapi dirinya untuk menangani masalah.

5. Menjalani Penderitaan Anda Melalui Cara Pandang Yang Pantas

Anak memiliki kemampuan untuk mengerti dan tanggap secara luar biasa. Jika mereka merasa bahwa Anda tidak meletakkan pergumulan Anda pada sudut pandang yang bersifat kekekalan, mereka akan kurang mendengarkan apa yang Anda katakan. Apakah Anda telah mempercayakan beban dan pencobaan yang Anda alami pada Tuhan? Apakah Anda percaya pada Tuhan untuk hasil akhirnya? Iman Anda pada kedaulatan Tuhan yang mencintai Anda akan memberi ketenangan pada anak-anak Anda.

Ini bukanlah isu yang mudah ditangani - tidak untuk orang dewasa, apalagi untuk anak-anak. Namun mereka perlu dijelaskan, karena penderitaan adalah bagian dari dunia ini. Penulis buku ini mengatakan : "Penderitaan dalam segala hal adalah sulit, namun itu bukanlah sesuatu yang harus membuat Anda malu. Pada kenyataannya, mereka yang menderita akan mendapatkan cara pandang terhadap kehidupan dan memberi penghargaan dan pujian pada Tuhan yang tidak dimiliki orang lainnya".

Sumber : cbn.com

Sabtu, 05 Maret 2011

Jika Sang Ayah Tidak Bisa Selalu Hadir untuk Buah Hati

Sebagai Ayah, apakah Anda jauh dari sang buah hati entah karena tugas kerja atau alasan lainnya?

Kehadiran sosok ayah di sini adalah kehadiran secara fisik dan emosional. Ayah yang mampu berinteraksi secara emosional, mengenal dan memahami emosi anaknya, mampu mendorong serta mendukung secara moril. Contohnya, membimbing anak ketika ingin tidur dan bermain, memberikan penjagaan dalam pergaulan, dll.

Pengaruh sosok ayah juga dikatakan memiliki dampak yang tetap. Bukan hanya saat anak sudah menginjak remaja, tetapi semasa kecil; masa balita, interaksi antar ayah dengan sang anak akan semakin menguatkan. Ada beberapa kasus kehadiran seorang ayah dan turut merawat ketika mereka balita, menjadikan anak tumbuh dewasa sebagai sosok pribadi yang lebih simpatik, empati, hangat, dan cenderung memiliki percaya diri tinggi.
 
Lazimnya, para ayah berinteraksi dengan anak-anaknya berbeda dengan cara sang ibu berinteraksi. Sebab, pada umumnya seorang ibu melakukan interaksi dengan anaknya lebih tenang, stabil, dan lembut. Aktivitas bermain dengan lembut atau membacakan sebuah buku cerita dengan tenang.

Para ibu akan lebih cenderung memainkan permainan yang sudah lazim seperti cilukba, tepuk-tepuk tangan, membaca buku, menggerakkan mainan atau puzzle. Sementara dengan ayah, biasanya anak akan diajak bermain lompat-lompatan, memanjat, kuda-kudaan ataupun pesawat-pesawat terbang dengan mengangkat atau mengayunkan tubuh anak.

Memang kedua orangtua memilik "ragam" untuk mewarnai dunia anak-anaknya. Ayah dan ibu, memiliki peran masing-masing yang saling mendukung dan membantu. Apabila salah satu fungsi rusak, ada kemungkinan anak akan kehilangan identitas.

Dalam keluarga, ayah menjadi panutan yang sangat dibutuhkan anak. Dan, umumnya sentuhan kasih ayah lebih memiliki kesan mendalam di hati anak-anak. Karena itu tidak berlebihan bila ada istilah ayah adalah pahlawan bagi anak-anak. Karena peran yang unik dan istimewa, ayah menjadi pujaan hati oleh gadis kecilnya dan menganggap seorang ibu adalah saingan.

Di sana ia akan belajar mengenai figur laki-laki yang akan memberikan sudut pandang laki-laki. Gadis kecil ini akan tumbuh dan menjadi sadar dengan identitas kewanitaannya. Selama ibu dan ayah bisa menjelaskan secara proporsional pada masa ini, gadis kecil akan mulai belajar mengenal figur sosok laki-laki secara baik.

Yang harus dilakukan jika ayah jauh dari anak:

1. Tetap terus membina komunikasi dengan anak, baik telepon ataupun surat.
2. Cobalah untuk mengirim foto-foto, di mana si ayah bertempat tinggal atau sedang melakukan aktivitas bekerja.
3. Jika dalam berkomunikasi si anak ingin meminta sesuatu kepada ayahnya, sebaiknya ibu dapat mengambil alih peran sang ayah.
4. Tidak ada salahnya untuk selalu mengingatkan atau menceritakan kepada anak bahwa ayahnya sedang bertugas atau sedang belajar.
5. Ajaklah anak untuk bermain dengan sanak saudara lainnya terutama pria dewasa.

Sumber : boundlessline.org
Sebagai Ayah, apakah Anda jauh dari sang buah hati entah karena tugas kerja atau alasan lainnya?

Kehadiran sosok ayah di sini adalah kehadiran secara fisik dan emosional. Ayah yang mampu berinteraksi secara emosional, mengenal dan memahami emosi anaknya, mampu mendorong serta mendukung secara moril. Contohnya, membimbing anak ketika ingin tidur dan bermain, memberikan penjagaan dalam pergaulan, dll.

Pengaruh sosok ayah juga dikatakan memiliki dampak yang tetap. Bukan hanya saat anak sudah menginjak remaja, tetapi semasa kecil; masa balita, interaksi antar ayah dengan sang anak akan semakin menguatkan. Ada beberapa kasus kehadiran seorang ayah dan turut merawat ketika mereka balita, menjadikan anak tumbuh dewasa sebagai sosok pribadi yang lebih simpatik, empati, hangat, dan cenderung memiliki percaya diri tinggi.
 
Lazimnya, para ayah berinteraksi dengan anak-anaknya berbeda dengan cara sang ibu berinteraksi. Sebab, pada umumnya seorang ibu melakukan interaksi dengan anaknya lebih tenang, stabil, dan lembut. Aktivitas bermain dengan lembut atau membacakan sebuah buku cerita dengan tenang.

Para ibu akan lebih cenderung memainkan permainan yang sudah lazim seperti cilukba, tepuk-tepuk tangan, membaca buku, menggerakkan mainan atau puzzle. Sementara dengan ayah, biasanya anak akan diajak bermain lompat-lompatan, memanjat, kuda-kudaan ataupun pesawat-pesawat terbang dengan mengangkat atau mengayunkan tubuh anak.

Memang kedua orangtua memilik "ragam" untuk mewarnai dunia anak-anaknya. Ayah dan ibu, memiliki peran masing-masing yang saling mendukung dan membantu. Apabila salah satu fungsi rusak, ada kemungkinan anak akan kehilangan identitas.

Dalam keluarga, ayah menjadi panutan yang sangat dibutuhkan anak. Dan, umumnya sentuhan kasih ayah lebih memiliki kesan mendalam di hati anak-anak. Karena itu tidak berlebihan bila ada istilah ayah adalah pahlawan bagi anak-anak. Karena peran yang unik dan istimewa, ayah menjadi pujaan hati oleh gadis kecilnya dan menganggap seorang ibu adalah saingan.

Di sana ia akan belajar mengenai figur laki-laki yang akan memberikan sudut pandang laki-laki. Gadis kecil ini akan tumbuh dan menjadi sadar dengan identitas kewanitaannya. Selama ibu dan ayah bisa menjelaskan secara proporsional pada masa ini, gadis kecil akan mulai belajar mengenal figur sosok laki-laki secara baik.

Yang harus dilakukan jika ayah jauh dari anak:

1. Tetap terus membina komunikasi dengan anak, baik telepon ataupun surat.
2. Cobalah untuk mengirim foto-foto, di mana si ayah bertempat tinggal atau sedang melakukan aktivitas bekerja.
3. Jika dalam berkomunikasi si anak ingin meminta sesuatu kepada ayahnya, sebaiknya ibu dapat mengambil alih peran sang ayah.
4. Tidak ada salahnya untuk selalu mengingatkan atau menceritakan kepada anak bahwa ayahnya sedang bertugas atau sedang belajar.
5. Ajaklah anak untuk bermain dengan sanak saudara lainnya terutama pria dewasa.

Sumber : boundlessline.org

Jumat, 04 Maret 2011

Tips Mengatasi Perselisihan Kakak Adik

Kalau pemerintah kita menganjurkan Keluarga Berencana dengan dua anak cukup, ada juga keuntungan sampingannya. Paling tidak mengurangi stres para ibu menangani perselisihan di antara anak-anaknya. Anak-anak, serukun apapun keluarganya pasti berantem dan berebut untuk berbagai alasan. Mereka bertengkar waktu bermain, waktu belajar atau waktu makan. Dan semua ini adalah normal.

Perselisihan kakak adik ini bukan hanya terjadi waktu kanak-kanak saat mereja saling berebutan perhatian orangtua saja. Perselisihan masa kanak-kanak yang tidak terselesaikan secara baik akan berpengaruh jangka panjang sampai mereka dewasa.

Tentu sebagai orangtua kita tidak ingin keluarga kita menjadi arena pertempuran apalagi jika harus terbawa sampai tua. Untuk itu perlu cara bijak menghadapi perselisihan anak-anak kita :

1. Perlakukan Setiap Anak Dengan Spesial

Karena setiap individu adalah spesial maka kita perlu untuk memperlakukan setiap anak kita secara spesial. Hindari membanding-bandingkan satu dengan yang lainnya, mempunyai anak favorit atau menjadikan salah satu anak model bagi anak yang lainnya. Berikan perhatian secara pribadi kepada setiap anak. Misalnya, ajaklah anak secara bergantian untuk mengunjungi tempat favorit mereka dan gunakan waktu ini untuk melakukan pembicaraan pribadi.

2. Mengajar Cara Positif Mendapatkan Perhatian

Pada dasarnya perselisihan timbul karena anak-anak mau mendapatkan perhatian dari orangtua. Jika salah satu atau kedua orangtua membeda-bedakan anak dan memfavoritkan anak tertentu maka perselisihan ini akan semakin tajam. Demikian juga jika orangtua tidak adil dalam membagi waktu atau menyelesaikan konflik yang terjadi di antara mereka. Buat anak mengerti cara yang baik dan postif untuk mendapatkan perhatian, salah satunya dengan mengemukakan pendapat secara terbuka.

3. Lakukan Aktifitas Bersama

Makan, nonton TV, belajar, beribadah bersama-sama adalah contoh kegiatan yang bisa dilakukan untuk membangun kebersamaan. Outing, piknik dan mendaki gunung adalah contoh lainnya yang dapat dilakukan orangtua untuk membangun team work bagi anak-anaknya. Ketika anak-anak mengalami senang dan pahit bersama-sama maka ikatan emosional mereka semakin kuat. Contoh lain adalah cara unik untuk melakukan tradisi keluarga misalnya merayakan natal, tahun baru, ulang tahun, hari ibu dan hari anak secara khusus.

4. Kembangkan Potensi Maksimal Anak

Anak-anak perlu untuk mengenal, menggali dan mengembangkan potensi mereka. Ada anak yang mahir bermain musik, ada yang bersuara merdu, ada yang jago menggambar, ada yang pintar matematika dan masih banyak lagi. Potensi-potensi ini sudah tampak sejak mereka sangat kecil. Orangtua yang bijak, selain menjadikan setiap anak spesial, juga membantu anak mereka mencapai potensi maksimal mereka. Dorong kakak untuk aktif dalam mengksplore dunia sains yang disukainya dan dukung hobi adik dalam bermain musik. Potensi yang berkembang memberikan rasa percaya diri dan mengajarkan cara positif untuk beraktualisasi.

5. Membangun Nilai-Nilai Sejak Dini

Nilai-nilai agama dan pengembangan karakter harus dimulai sedini mungkin. Anak yang diajarkan nilai persaudaraan berbeda dengan yang tidak diajarkan sama sekali. Meskipun setiap manusia berkembang dengan membangun nilai moral masing-masing, tapi mengajarkan nilai secara khusus adalah investasi tak ternilai untuk masa depan anak-anak kita. Nilai yang paling penting dibangun adalah nilai agama. Dengan belajar Firman Tuhan dan menarik teladan dari tokoh-tokoh Alkitab, anak-anak belajar hal yang konkrit mengenai karakter ilahi.

Penulis adalah seorang konselor profesional dan juga penulis buku "Turning Hurt Into Hope" (Metanoia 2009).
Sumber : Nancy Dinar
Kalau pemerintah kita menganjurkan Keluarga Berencana dengan dua anak cukup, ada juga keuntungan sampingannya. Paling tidak mengurangi stres para ibu menangani perselisihan di antara anak-anaknya. Anak-anak, serukun apapun keluarganya pasti berantem dan berebut untuk berbagai alasan. Mereka bertengkar waktu bermain, waktu belajar atau waktu makan. Dan semua ini adalah normal.

Perselisihan kakak adik ini bukan hanya terjadi waktu kanak-kanak saat mereja saling berebutan perhatian orangtua saja. Perselisihan masa kanak-kanak yang tidak terselesaikan secara baik akan berpengaruh jangka panjang sampai mereka dewasa.

Tentu sebagai orangtua kita tidak ingin keluarga kita menjadi arena pertempuran apalagi jika harus terbawa sampai tua. Untuk itu perlu cara bijak menghadapi perselisihan anak-anak kita :

1. Perlakukan Setiap Anak Dengan Spesial

Karena setiap individu adalah spesial maka kita perlu untuk memperlakukan setiap anak kita secara spesial. Hindari membanding-bandingkan satu dengan yang lainnya, mempunyai anak favorit atau menjadikan salah satu anak model bagi anak yang lainnya. Berikan perhatian secara pribadi kepada setiap anak. Misalnya, ajaklah anak secara bergantian untuk mengunjungi tempat favorit mereka dan gunakan waktu ini untuk melakukan pembicaraan pribadi.

2. Mengajar Cara Positif Mendapatkan Perhatian

Pada dasarnya perselisihan timbul karena anak-anak mau mendapatkan perhatian dari orangtua. Jika salah satu atau kedua orangtua membeda-bedakan anak dan memfavoritkan anak tertentu maka perselisihan ini akan semakin tajam. Demikian juga jika orangtua tidak adil dalam membagi waktu atau menyelesaikan konflik yang terjadi di antara mereka. Buat anak mengerti cara yang baik dan postif untuk mendapatkan perhatian, salah satunya dengan mengemukakan pendapat secara terbuka.

3. Lakukan Aktifitas Bersama

Makan, nonton TV, belajar, beribadah bersama-sama adalah contoh kegiatan yang bisa dilakukan untuk membangun kebersamaan. Outing, piknik dan mendaki gunung adalah contoh lainnya yang dapat dilakukan orangtua untuk membangun team work bagi anak-anaknya. Ketika anak-anak mengalami senang dan pahit bersama-sama maka ikatan emosional mereka semakin kuat. Contoh lain adalah cara unik untuk melakukan tradisi keluarga misalnya merayakan natal, tahun baru, ulang tahun, hari ibu dan hari anak secara khusus.

4. Kembangkan Potensi Maksimal Anak

Anak-anak perlu untuk mengenal, menggali dan mengembangkan potensi mereka. Ada anak yang mahir bermain musik, ada yang bersuara merdu, ada yang jago menggambar, ada yang pintar matematika dan masih banyak lagi. Potensi-potensi ini sudah tampak sejak mereka sangat kecil. Orangtua yang bijak, selain menjadikan setiap anak spesial, juga membantu anak mereka mencapai potensi maksimal mereka. Dorong kakak untuk aktif dalam mengksplore dunia sains yang disukainya dan dukung hobi adik dalam bermain musik. Potensi yang berkembang memberikan rasa percaya diri dan mengajarkan cara positif untuk beraktualisasi.

5. Membangun Nilai-Nilai Sejak Dini

Nilai-nilai agama dan pengembangan karakter harus dimulai sedini mungkin. Anak yang diajarkan nilai persaudaraan berbeda dengan yang tidak diajarkan sama sekali. Meskipun setiap manusia berkembang dengan membangun nilai moral masing-masing, tapi mengajarkan nilai secara khusus adalah investasi tak ternilai untuk masa depan anak-anak kita. Nilai yang paling penting dibangun adalah nilai agama. Dengan belajar Firman Tuhan dan menarik teladan dari tokoh-tokoh Alkitab, anak-anak belajar hal yang konkrit mengenai karakter ilahi.

Penulis adalah seorang konselor profesional dan juga penulis buku "Turning Hurt Into Hope" (Metanoia 2009).
Sumber : Nancy Dinar
 
Planet Stylista Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template